Senin, 12 Agustus 2013

Cerita random tentang Jawa Timur

Sebuah cerita random, datang dari sebuah kesakitan dan kegelisahan melihat alam yang semakin tidak menentu.

Yah, kadang butuh mood khusus untuk membuat tulisan mengalir. Emosi yang meluap-luap. Kalau ia tidak segera dituliskan makan akan menjadi kelupa-lupa.

Sudah lama tidak menulis serius. Kadang ada mood tapi ga bawa leptop, nulis di hape kecil walaupun smart tapi membuat mood menulis hilang.
Hahh! Akhirnya punya sedikit waktu untuk bercerita tentang beberapa bulan belakangan. Beberapa kali bolah balik Yogyakarta sampai ujung pulau Jawa, setiap daerah menyimpan berbagai macam cerita. Tentang teman, tentang kamu, tentang binatang,tentang manusia yang seperti binatang. Tentang sebuah kekayaan alam Indonesia yang tak pernah habis dikeruk korporat dan oknum-oknum penjahat alam.
Ini baru tanah Jawa.

PAITON
Pertama kalinya saya menganga melihat sebuah PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di daerah Situbondo-Bondowoso, Paiton. Malam ternyata menyembunyikan tumpukan batu-batu bara berkilo-kilo meter panjangnya. Ketika siang kau akan melihat berratus-ratus kapal pembawa batu bara dari Kalimantan ke Paiton untuk menghidupi listrik di Pulau Jawa, Bali dan Madura. Begitu banyak dan begitu besar. Bisa dibilang itu adalah pemindahan bukit-bukit hijau di Kalimantan menjadi tumpukan bukit hitam pekat. Hijau yang dirampas dari Kalimantan itu semata-mata dibawa ke tanah Jawa untuk menghidupi listrik. Padahal di Kalimantan, masih banyak kampong-kampung belum berlistrik.

MERU BETIRI
Taman nasional yang di dalamnya ada perkebunan pribadi. Masih banyak hewan disana, seperti merak, monyet abu-abu, monyet hitam, biawak besar, jaguar hitam, rusa, babi hutan, beberapa jenis serangga aneh. Masih juga bisa ditemukan bunga Rafflesia jenis kecil disana. Masalahnya bukan pada hewannya, tapi pada masyarakat yag hidup disana. Bisa dikatakan Primitif atau Purba. Sebenarnya cara itu sangatlah ekologis karena rumah masih beratapkan jerami, beralaskan tanah, bertembok anyaman bamboo atau triplek. Tapi disamping-sampingnya persis bersebelahan dengan kandang sapi yang sangat kurus, anjing-anjing yang mengenaskan. Bahkan pemilik-pemilik sapi dan rumahnya juga kurus dan sudah sepuh. Lain kai akan kuceritakan detilnya… sekarag belum banyak yang bisa ku oleh dari pengalaman yg lalu.

PULAU MERAH
Tambang intan dan Emas dari perusahaan Amerika, Australia, dan Jepang mengeruk habis kekayaan yang terdapat di perut pulau itu. Merkurinya mencemari biota laut yang hidup di dekat taman Nasional Meru Betiri. Mulai banyak penyu yang terkena penyakit. Telur abnormal semakin banyak, anak-anak penyu (tukik) mulai mengalami ke-albino-an. Ranger di konservasi penyu yang tidak berkompeten. Ah, aku sungguh membenci mereka yang tidak memperlakukan sesamanya, hewan, dan tumbuhan. Tapi biar Alam yang membalasnya….

Segitu dulu ah, sudah harus segera meluncur ke Jogja.


Kertosono, 12 Agutus 2013

Senin, 17 Desember 2012

Please don’t count on me


“Papa, aku kangen”. Kalimat itu tak pernah terucap satu kalipun dari mulutku. Begitu ia keluar, aku selalu tau akan beriringan dengan air mata karena keluar dari hati yang paling dalam.

Satu dua tahun bukana waktu yang singkat. Hingga tiba saatnya nanti tanggal 25 Desember, dua tahun sudah tidak bisa berkumpul dengan utuh…

Sekali kuberanikan diri menulis di wall facbook yang jarang dibukanya. “Pa, natalan jadi pulang ga?”
Karena sinyal untuk berkiriman pesan atau menelpon sangat susah, dan kadang kujumpai ia online. Butuh waktu lebih dari 2 jam untuk mencapai perkotaan. Pulau disebrang sana menjadi saksi kerinduannya untuk keluarga. Ketika Papa menyapaku di fb aku menjadi kegirangan yang sering berubah menjadi air mata butiran rindu, hampir 2 tahun… Sekedar, “Lg ngapain mbak? Jam segini lagi dimana?”.

Aku tidak berani bilang bahwa sebenarnya aku sangat rindu rumah, rindu mama, rindu papa, rindu berkumpul dengan kedua adikku. Karena mereka pasti juga punya kerinduan yang menggumpal-gumpal hampir tak tertampung lagi. Bahkan kerap ketika sakit aku tidak berani cerita… sakit bukan untuk dibagi. “Kamu jaga kesehatan, kalau sakit kan yng repot bukan cuma kamu. Mama, Papa jauh mbak” Itu yang terakhir dari Papa, larut malam, 3 minggu lalu, dan memecah tangis sejadi-jadinya.

Entah apa rasanya menjadi Mama. Ah, lupa, sebentar lagi hari ibu. Entah hari apapun itu, Mama selalu ada dalam doa-doa yang tak perlu ditunjukkan. Mama selalu menjadi idolaku tersayang, karena ia mengajarkan ketegaran hati, kesabaran, kerendahhan hati, dan kemandirian. Ia tidak pernah lupa mengingatkan bahwa manusia itu sangat kecil dan suatu saatnya jika kita harus kembali ke tanah kita harus ikhlas dan waktu yang telah diberikan harus dijaga serta digunakan sebaik-baiknya.

Aku bahkan tidak kuat menahan rasa rindu saat ditelpon Mama. “Ma, aku kangen. Kangen sama Papa juga.” Tangis kami pecah. “Ya di telpon dong papanya. Mama juga pengennya semua pulang kita kumpul dirumah. Tapi kan memang ga bisa, jangan dipaksain, dijalanin aja. Mama juga bingung, Adek juga nanya kemarin…katanya: mbak sama mas ga jadi pulang? Papa ga pulang juga ya, Ma? Terus kita natalan gimana dong?” Kembali tangis terpecah. Segera kusudahi, tidak kuat lagi.

Semoga berkat tidak turun ketika orang sedang berkumpul saja. Semoga mereka yang tinggal berjauhan dari orang-orang yang dicintai akan mendapatkan kebahagiaan juga. Natal kali ini tidak terasa. Ada rindu. Sendu.

*Makin sendu lagi dengan iringan musik Dear God oleh Avenged Sevenfold.

I won’t be home for christmas, please don’t count on me…

Kamis, 13 Desember 2012

Repot menjadi Orang (yang dianggap) Dewasa #2

"Kalau sudah lulus nanti mau kerja apa, mbak?"
     "Mbuh, ga tau, ma, mau kerja apa... paling masih di dunia tour dan travel"
"Kan sebentar lagi kamu lulus, kalau sudah kerja mapan kamu yang biayain adikmu kuliah ya?"
     "Akkk.... (tersedak) Iya, ma..."

Memang setiap mausia yang lahir ke dunia ini punya tanggung jawab bawaan yang kadang bisa juga disebut takdir. Takdir anak pertama, selalu menjadi tulang punggung keluarga ketika kepala keluarga sudah tidak bisa menopang sendirian, harus bisa mencontohkan yang baik untuk adik-adiknya.

Takdir hidup memang tidak bisa dielakkan. Seiring dengan bertambahnya usia, beban yang ditanggung makin terasa saja. Masalah makin kompleks dan pemaknaan terhadap sesuatu menjadi lebih rumit. Satu hal yang bisa dilakukan untuk takdir: dijalani dengan tulus dan ikhlas. Saya masih percaya bahwa Sang Pencipta akan membukakan jalan bagi segala makhluk. Pasti ada jalan untuk mencapai kebahagiaan suatu saat nanti. Kuncinya: Berusaha dan Percaya bahwa roda hidup masih dan akan terus berputar.

Mau menangis dan merengek-rengek lagi untuk menjadi anak kecil lagi bukanlah jalan yang logis, jadi tetaplah saja melangkah. Kalau lelah berjalan cepat, berhenti dan istirahat saja sejenak. Ah, sudah cukup dulu istirahatnya kali ini.... mari berjalan lagi.