Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 November 2013

Sesak


Lalu harus ku-apa-kan rindu-rindu
yang bersarang di setiap sudut kamarku?
Setiap sudut ruang kerjaku?
Setiap sudut mataku?

Mengapa hujan sangat dekat dengan rindu?
Sementara kamu begitu jauh
Dan dingin kadang membunuhku
Perlahan dengan tetes-tetes air yang menyanyikan namamu

Ah, melankolia... Membuat sesak

Penghujung tahun selalu begitu
Menjinjing perasaan-perasaan yang membuncah
Tapi pasti ada yang tercecer di jalan-jalan
di tepian-tepian trotoar tempat kita menghabiskan waktu
di remang lampu-lampu jalanan saat malam
di sebuah tempat yang dingin kala aku menyandarkan kepalaku di bahumu
di perjalanan yang jauh yang memaksa kita berjalan tanpa ada lagi tenaga tersisa
di sana, dan di sini... 
Tepat di jantung ini


Sesak, ini sudah meluap-luap


Yogyakarta, 21 November yang hujan dan senja yang indah 2013

Kamis, 04 Oktober 2012

memosting tulisan lama #2


Darah-darah

Darah-darah dimana-mana
Dulu, dan membekas sampai sekarang
Tumpah di pinggir jalan, di hutan
Tumpah di gereja, di rumah-rumah

Darah-darah dimana-mana
Merah entah karena darah siapa
Sungai merah pekat mengalir
Jiwa-jiwa semakin getir

Darah-darah... Darah-darah...
Disiksa sampai belur
Ditembak sampai tersungkur
Darah-darah dimana-mana

Darah-darah mereka yang memperjuangkan kebebasannya
Darah-darah mereka yang menginginkan kemerdekaan bangsa
Darah-darah mereka yang hanya ingin hidup nyaman
Untuk sekedar menyambung nyawa dan makan

Darah-darah mereka dulu ada disini
Di setiap ruas bumi kelahiran ini

--Dili, 11 Februari 2011--

Rabu, 26 September 2012

Belum Mati

Sudah lama ku bunuh matahari
yang cahayanya paling berani,
sudah lama ku lupa rasa yang meluap
hingga jantung tak mampu mengatup

Mati. Belum. Hanya Ku pagari.
Ku ikat dengan kencang
ku simpan di ruang terdalam.

Berani kumatikan
terlalu banyak logika berperang
Beraniku takut terang
terlalu lama tak melihat cahaya

Mati. Belum. Hanya ku pagari.

Lalu apakah hidup hanya untuk mengorbankan
Kebahagiaan sendiri untuk orang lain?

Sementara disini,
rasa itu terkekang, belum mati.

Dingin dan beku,
sedingin angin pagi di puncak-puncak gungung tertinggi
Tertutup awan tebal
Sinar terhalang pohon menjulang tinggi.

Mati. Belum. Hanya ku pagari.

Entah kapan aku berani mendobrak
pintu beku di sudut ruang
tempat memorimu terkekang.
Selalu ada kamar di ruang rindu
yang haus bayang sinar matamu.

Ruang...
Kusimpan dalam-dalam...
Untuk kamu...


Yogyakarta, 25 September 2012
Sambil terkantuk di ruang kuliah...

Selasa, 19 Juni 2012

Akulah Prajuritnya


Dalam sinar putih sang surya pagi
Ragaku bergerak selaun detak denyut nadiku

Bersiaplah prajurit, bertarung dengan kenyataan!

Pikiranku pedangku
Mata sebagi tameng
Hati adalah baju baja
Dan akulah prajuritnya!

Dalam teriknya sinar putih setinggi kepala
Terus kubuka mata mencerna
Mereka terkapar dan lapar
Ada juga yang buncit dan megar
Itu yang berdasi dan mobil pribadi
Si berwarna teraniaya dikuras tenaganya
Sama yang kulitnya putih pakai dasi
Padahal ini negeri si warna-warni

Dalam teriknya sinar putih setinggi kepala
Kurentangkan hati mencoba memahami
Rasa-rasa perih dan letih
Dari si sakit yang tak mampu bayar rumah sakit
Dari si sarap yang tak diakui keluarganya
Dari si buruh yang hanya bekerja dan bekerja
Dan si lemah yang terus dianiaya

Pikiranku pedangku
Mata sebagai tameng
Hati adalah baju baja
Dan akulah prajuritnya!

Aku prajurit yang merdeka!
Belajar tidak takut dibungkam penguasa
Setia pada kebenaran dan keadilan
Menjunjung tinggi kedamaian

Aku bertarung dengan kenyataan
Kenyataan yang suka menikam kebenaran
Yang suka menindas keadilan
Yang suka menyandera nurani tiap insan

Aku, Prajurit yang bertarung dengan kenyataan
Hingga surya meredup
Sinarnya dikalahkan malam
Prajurit tak akan gugup                                                                              
                                                                                                                 Yogyakarta, 14 Januari 2010

Purnama Kelam


Semburit purnama kelam yang sepi
Muncul lagi tanpa permisi
Abaikannya, dan aku tetap melangkah
Mendaki hutan cemara yang tak pernah terlewati, menjauh

Terlalu kelam dan pedih sinarnya
Yang terpantul dari aliran sungai pulau itu
Menepis batu-batu yang menghujam dada
Janji-janji tinggal membisu

Tak akan pernah ku ketahui
Kapan purnama kelam kembali lagi
Kalau melupakan tiada mungkin
Biarkan aku membunuh kamu dalam bayangan

Yogyakarta, 18 Juni 2012
Subuh yang dicekam bayangan

Senin, 14 Mei 2012

Lagi

Terserak lagi, tercecer lagi
Dikumpulkan satu-satu

Melalui jalan-jalan baru
Yang belum terinjak
Pelan-pelan, hati-hati
agar tidak jatuh lagi

Kalau waktu mungkin kupungut kembali
Semudah melukai...

Mulai lagi...

Minggu, 05 Februari 2012

Ketegaran hati

Lalu salah ketika aku menangis?
Sendiri di sudut ruang
Atau tengkurap diatas kasurku yang tak lagi empuk
Bersama malam yang gerimis akhir-akhir ini

Banyak kuping yg bisa dan mungkin mau mendengar
Banyak juga mulut yang mau menasehati

Maaf kali ini aku mau menyimpan sendiri
Ku simpan resah dan takut dalam dompetku
Pergi bersama sepi dan sunyi
Karena kadang mereka sahabat terbaik
Ketika yang kubutuhkan hanya ketegaran hati

Siapa yang tahu benar akan hidupku
Aku sendiri kadang ragu
Ketidak pastian hanya berobat satu
Hanya ketegaran hati

Aku hanya sedang butuh sendiri
Supaya bisa jadi bantal tempat ibuku menangis
Menjadi kopi yang bisa menenangkan ayah
Menjadi sendal gunung adik laki-lakiku
membantunya agar tidak mengikuti emosi
Menjadi buku Diary adik perempuanku
tempat ia mencurahkan isi hati

Sekarang aku hanya butuh ketegaran hati
Supaya aku tidak terus menangis
Bersama sepi dan sunyi
Ketegran hati, kuatkan aku

Bukan Biru

Malam malam hanyut diterpa banjir rindu
Datang dari hati terus mengucur tak berhenti
Tapi semua tetap sepi terbuai mimpi sendiri
Aku tengelam di sudut kamar, tak ada yang tau

Bukan air, ini malam yang bertabur semburat senja
Sendiri, kemerahan meresap di diding kamar
Tetap tersudut, biru berganti, senja merah meraja
Merah merah meresapi dinding kamar

Merah menenggelamkanku dari biru
Walau masih ada ungu, tapi bukan biru
Malam malam hanyut diterpa banjir rindu
Rindu yang merah, bukan biru

Minggu, 19 Desember 2010

Malam yang Indah

Satu tahun lalu...

Di pinggir sungai yang tidak terlalu deras
Kursi dan meja kayu, serta lilin kecil menjadi saksi
Menyatukan hati dan berbagi kasih
Aku dan Kamu...

Satu tahun lalu...

Di bawah bulan dengan bulatan penuh
Di atas pasir hitam yang sedikit lembab
Disertai deburan ombak pantai Parangtritis
Angin darat yang terus berhembus ke samudra

Ah, kamu tahu, sayang...
Betapa indahnya kala itu
Hanya duduk disampingmu
Berbincang tentang segala masa lalu dan harapan kedepan
Menghabiskan waktu bersama
Menunggu matahari terbit
Karena lusa aku akan pulang, sayang...

Aku dan kamu menghadap ke samudra
Aku didekapmu dan kamu membisikkan seuntai kata
Melihat langit yang tertutup awan kelam
Hingga tertiup angin dan bintang pun berpendaran

Kita sama-sama takut menyakiti satu sama lain
Ya, sampai akhirnya malam satu tahun lalu
Membuka diri, dengan jujur satu sama lain
Kita memberanikan diri dan saling membahu
Membuang kenangan pahit yang lama
Dan memulai lembaran hidup yang baru

Kamu tahu sayang...
Sungguh, malam itu
Malam terindah yang pernah aku rasakan
Mengikat janji dihadapan samudera

Satu tahun, sayang... hanya sebagai permulaan
Sebagai awal kita berproses bersama
Saling mengerti, dan menyemangati
Membantu dan memberi
Menyelesaikan segala problematika kehidupan diri

Tadi malam,
Menyadari tentang kekurangan diri
Bersama saling memahami untuk bebenah diri
Untuk mempersiapkan hidup kedepan yang sulit
Untuk menghadapi segala ketidak pastian hidup

Semoga tidak hanya sampai di angan saja
Semoga apa yang telah direfleksikan dan dievaluasi
Tidak menjadi bahan evaluasi kedepannya...


Yogyakarta, 19 Desember 2010
Hawa dingin dan hujan sepanjang malam serta sebotol air putih.

Minggu, 22 Agustus 2010

Termarjinalkan





Kami lapar
Kami haus
Kami butuh tempat berlindung
Kala malam terlalu dingin
dan siang terlalu menyengat

Kami sakit
Kami tak berduit
Kami butuh obat
Kala penyakit tak tertahan
BUKAN DIOBJEKAN!

Minggu, 01 Agustus 2010

Tik.. Tok..


Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Waktu terus berjalan tanpa menengok ke belakang

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Meninggalkan semua dimasa lalu
Tapi masih menyisakan
luka, duka, senyum, canda, tawa, air mata

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
aku tersenyum
aku tertawa

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
aku terluka
aku berduka
dan aku menangis

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Siapa peduli dengan senyum tawa duka luka dan air mata?
Semua sibuk

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Semua sibuk dengan dirinya sendiri

Dengan gadgetnya
Dengan headset di telinganya
Dengan handphone di tangannya
Dengan laptop di hadapannya

Dengan impian-impian populernya
Kerja tanpa susah payah dengan gaji yang luar biasa
Punya kekasih dan hidup berbahagia selamnya
Jalan-jalan ke tempat-tempat indah hingga keliling dunia

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Lalu sebenarnya hidup itu untuk apa?

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Aku tak berdaya melawan segala kuasa
Hanya segelintir yang terpinggir yang peduli

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Sepertinya waktu memang tidak peduli

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Mereka akan tetap begitu
Aku akan tetap begini

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Gelap... gelap gulita...
Melihat masa depan..
Gelap.. gelap gulita..

Waktu akan terus berjalan
Tanpa melihat ke belakang...

Minggu, 04 Juli 2010

Untuk 31 (VALDSTORN)











Kamu ingat seragam biru yang mungkin sekarang tergantung atau terlipat di lemarimu?
Aku selalu ingat itu...
Kamu ingat badge yang tertempel di baju biru dan dengan penuh strategi kita dapatkan?
Aku selalu ingat itu...
Kamu ingat stagen putih yang diraih penuh darah dan semangat?
Aku selalu ingat itu...

Aku mau memutar waktu sejenak

Tentang celana training
hari selasa dan jumat sore
kitab suci dan rosario menggantung di leher

tentang lilin
yang menerangi malam kita menyusuri jalan dengan rumput berduri


tentang makanan di tanah
ubi, nasi, daun pepaya, brotowali, agar-agar mengkudu

tentang kotoran kerbau
diatasnyalah kita dijemur dan melakukan aktifitas fisik


tentang latihan fisik
push-up, sit-up, pul-up

tentang lapangan
berlari, stretching, warming-up
cooling-down

tentang patching pad
tendangan, pukulan, tangkisan

tentang perjuangan
saling membantu, menyemangati, dan mengorbankan diri

tentang darah
malam, Cisarua, pohon pepaya, batu besar, dan benteng Yerusalem

tentang tronton
tidur, menganga, kuda-kuda, barang-barang

tentang sungai
'pembabtisan', janji prasetya, slayer

tentang air ludah
yang bercampur dalam biskuit, ubi, dan makanan lain

tentang meditasi
nyamuk yang menusuk kulit hingga kaki yang kesemutan

tentang pendadaran, rekoleksi, retret, dan pemantapan gerak

tentang jalan-jalan bersama

tentang ngobrol bersama



tentang kalian, tentang kita

Mungkin aku tidak akan lagi menemukan yang seperti kalian
Aku menyayangi kalian....

Suatu Senja


Di suatu senja dimusim-musim yang lalu

Aku melihat langit jingga merona

Penuh keagungan Sang Maha Karya

Aku terpesona, begitu indah

Romantis...


Senja yang telah lama ku kenal

Langit oranye kemerahan

Dengan abu-abu tipis mengumpal

Tertiup angin dan berkejaran



Ketika itu aku masih terpulas

Tertidur nyenyak dalam belaian

Nyaman dalam jeratan yang ternyata melemahkan

Mengikat otak, merenggut kebebasan, dan mematikan



Di suatu senja di musim yang baru kusadari telah berganti.....

Aku menjadi takut

Senja tak lagi romantis

Karena waktu semakin menipis


Seharusnya aku mengetahui ini sejak dulu

Senja berarti hari ini sudah mau habis

Keadilan belum berdiri tegap

Kebenaran masih terkubur dalam-dalam

Dan pendidikan juga belum terbebas dari pasungnya