Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 November 2015

Perjalanan Pagi di Gunung Putri

Matahari telah menyingsing. Dalam kesunyian pagi di jalanan terlihat dua petani jahe menundukkan kepalanya. Mereka terlihat sedih dan sekali mengusap mata mereka.


Menyedihkan pemandangan pagi yang katanya cerah. Namun seketika setelah melihat dua petani jahe tadi, seluruh keindahan menjadi buram. Akankah nasib pemelihara makanan kita akan semiris itu?

Walaupun mereka bilang bahwa kita selalu butuh segala lapisan untuk menjaga keberlangsugan hidup, apakah mereka harus sesuah itu?

Pagi ini terus terngiang wajah sedih mereka karena aku tidak tahu harus berbuat apa. Sementara dikejar waktu karena harus datang ke kantor tepat waktu, sakit wajah mereka masih terasa pedih di dada. Dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Menyakitkan. Ketidakberdayaan adalah menyakitkan. Rasa kasihan tanpa ketidak mampuan adalah sakit yang memilukan.

Matahari telah meninggi, dan masih terasa pedih didada.

Gunung putri
7.49 am

Minggu, 02 Februari 2014

Belajar Ikhlas




Pengalaman lagi-lagi mengajarkanku untuk belajar ikhlas. Ikhlas melihat seorang yang kita sayangi bahagia dengan pilihannya. Keikhlaskan itu agak sedikit menyakitkan untuk membiarkannya, tapi lebih banyak lagi kebahagiaannya.

Setiap cerita pasti ada luka, dan luka itu harus dibagi agar orang lain terutama mereka yang kita sayangi tidak merasakan luka yang sama seperti yang kita rasakan. Bukan menjadi self-centris, tapi ini adalah bagian dari menyayangi.

Seperti itulah orang tua, mereka cerewet dan suka memberikan nasehat kepada anaknya. Mereka tidak mau membiarkan anaknya kesakitan atau terluka seperti apa yang pernah mereka alami. Tapi ketika anaknya sudah memilih, mereka bisa apa lagi… toh hidup ini bukan milik siapa-siapa. Membiarkan si anak untuk menjalani pilihan hidupnya dengan bertanggung jawab.

Ketika seseorang benar-benar peduli padamu, dia akan memberikanmu banyak cerita agar kamu belajar dari pengalaman mereka. Itulah puncak kepedulian yang bisa mereka berikan: membantumu dengan nyata dan bercerita. Tak perlu malu dan/atau gengsi menunjukkan kepedulianmu. Biarkan rasa pedulimu mengalir seperti air yang ikhlas akan menjadi kotor atau bersih di muara, ia tahu bahwa selalu ada yang bisa dipelajari.
Apapun hasilnya, ikhlaslah.

KE-RANDOM-AN



Ke-random-an ini sungguh menyiksa. Saya butuh waktu beberapa kali untuk menuliskan apa yang benar-benar ingin diluapkan. Kata-kata berhamburan, kalimat-kalimat menjadi sangat panjang, ide memburam. Astaga… sudah berapa lama saya hanya memendam dan mengingat kejadian-kejadian tanpa menuliskannya…

Kepala begitu penuh. Kadang dalam tidur, saya sering ngelantur dan beberapa saat sebelum terlelap jika ditanya-tanya saya kadang tak bisa mengontrol diri mau bicara apa. Bangun tidur, berkali-kali banyak wajah muncul dan kadang mengejutkan.

Tanggung jawab- tanggung jawab ini menumpuk pada pikiranku, pada lakuku, pada pundakku, hingga menggantung hingga mimpiku. Sudah ku coba menjalankannya satu-persatu, selalu masih saja ada kesalahan disana-disini. Kelelahan-kelalahan memuncak, kejenuhan berbuah sakit. Aku bingung kepada siapa lagi aku harus mengadu, karena mereka menjadikanku tempat mengadu.

Susah sekali untuk fokus. Terlalu banyak tekanan itu benar-benar tidak baik untuk kesehatan.
Seorang teman bertanya, “badanmu kok anget terus sih? Sakit apa kamu sebenernya?” Aku hanya senyum, karena aku sendiri tidak tahu. Bisa jadi komplikasi darah rendah dan tipes yang tak kian sembuh perkara selalu kecapekan. Capek dalam pikiran dan beraktifitas.

Aku benar-benar butuh obat penenang sepertinya. Entah itu tidur dalam pelukan, atau secangkir coklat panas yang diminum sembari mendengarkan lagu-lagu ringan. Entah aku tidak tahu. Semuanya masih begitu random dalam kepalaku. Jalani saja apa yang didepan kita, begitu saja kupikir cukup untuk mengisi ke-random-an ini.

Kamis, 26 Desember 2013

Batas Titik Dosa


Setiap benda, hidup ataupun mati, memiliki batas... batas-batas itu sekarang mencapai titik kejenuhan, titik kehancuran, titik kepengkuan, titik-titik itu menjadi dosa... dosa besar ketika kita tidak memenuhi tanggung jawab karena sudah terlanjur tercemplung kedalamnya, dan dosa besar pada keluarga yang telah mempercayai kita untuk menjadi orang berguna dalam masyarakat selepas kuliah nanti.

Awalnya aku memang tidak tahu bahwa semua akan menjadi serumit ini. Kesadaran. Ini bisa menjadi kutukan bisa juga menjadi anugerah. Kali ini sebut saja kesadaran membawaku pada keduanya... Dapat mempelajari banyak hal terutama kehidupan dan mendapat tekanan dari berbagai pihak. Aku sungguh tidak tahu bahwa akan berujung runyam, seperti sekarang ini.

Keyakinan telah membawaku untuk mengamini bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia di muka bumi. Setiap usaha akan membawa kita pada sebuah masa depan yang berasal dari pilihan-pilihan kita. Pilihan-pilihan itu membentuk sebuah jalan dan jangan salahkan keadaan atau yang lainnya. Karena, masa depanmu, kamu sendiri yang membuatnya kecuali tentang rejeki, jodoh, kelahiran, dan kematian... hanya semesta yang tahu.

Sekarang tanpa rokok dan kopi harus kuhajar sendirian perasaan-perasaanku. Membunuh ego dan angan tentang cita-cita. Ingin mengutuk kodratku sebagai kelas menengah sok berjuang untuk hal yang lebih baik, tapi yang hidupnya dirundung cemas. Jika benar aku menyalahkan, maka ini  akan menjadi sebuah kesalahan besar. Ingin membuat sebuah perbaikan, tetapi yg terjadi malah meneruskan dosa leluhur/senior dan membuat dosa lainnya sehingga mengecewakan banyak insan. Tak sepantasnya kita menyalahkan keadaan atau takdir... Solusinya hanya satu, menjalani dengan ikhlas. Lalu semua menjadi sepi, seakan terdiam... hanya terdengar sayup tuduhan dan tudingan.

Walaupun waktu banyak yang terbuang, tenaga terkuras, tabungan sudah habis bahkan sampai ngutang teman untuk mengunjungi kota-kota. Tak lupa, beberpa diantaranya mengorbankan hati hingga hancur berkeping-keping, di sumpah serapahi orang lain, di tuntut sana-sini, di maki orang tua... Hancur-hancuran. Sehancur-hancurnya. Bahkan kepingan terkecil itu lebih kecil dari debu, hingga sulit disapu. Itulah kenyataannya.

Ku akui, sempat aku lupa daratan. Melupakan sebentar tanggung jawabku atas sebuah mahakarya pertanggungan kuliah selama  4 tahun dan hanya sibuk bekerja pun berorganisasi. Salah, itu adalah kesalahanku, jangan ditiru. Aku jug pernah melupakan orang-orang terdekat dan terbaik dalam hidupku, yaitu keluargaku, keluarga biologis dan keluarga kulturalku. Aku telah menyakiti mereka atas keputusan-keputusanku. Sepertinya tak hanya aku, orang lain yang berjuang di tataran nasional dan kota pasti juga sudah banyak mengorbankan hal-hal penting dalam hidup mereka untuk tujuan yang mulia... mencerdaskan dan menyadarkan agar tetap saling bertautan.

Aku tetap sangat salut dengan saudara-saudaraku seperjuangan yang masih rela menduduki posisi itu dengan ikhlas dan dengan rendah hati. Bahwasannya, masih ada pemimpin yang sungguh-sungguh melayani, pemimpin yang rela mengorbankan semua yg dia miliki, pemimpin yang akan menjadi paling terakhir dalam barisan, pemimpin yang merakyat dan duduk ditengah-tengah kerumunan bersama rakyatnya... Kalian telah melampaui batas kemampuan diri. Masih selalu ingat dengan bantuan doa orang-orang terdekat yang kita sakiti, lalu berjanji untuk menebusnya setelah tugas-tugas yang telah disepakati bersama selesai. Aku sangat menghargai usaha dan kerja keras kalian yang penuh ketulusan... biarlah penebusan dosa-dosa kita pada orang-orang tersayang diterima oleh semesta sehingga berujung indah kawan.
---

                Dengan mudah, mungkin yang lain bisa berkata. Tapi kata yang terucap hanya sebatas permukaan karena mereka tidak penah tahu berkecimpung di dalamnya. Mengumpat memang mudah, yang sulit adalah bertahan dan tetap mau memperbaiki kesalahan yang ada, dan memaklumi bahwa tidak ada sesuatu yg sempurna. Kuatlah dan sabarkanlah hatimu kawan... tidak ada sesuatu yang sia-sia. Biarkan saja.

Memang, bisa saja setiap orang menghakimi orang-orang yang tetap bertahan tersebut sebagai orang bodoh, pengku, bebal, dan tidak berotak karena mereka telah mengorbankan masa depannya. Sesungguhnya mereka sudah sadar sepenuhnya akan ketidak berasan yang terjadi... mereka semua ingin memperbaikinya dan merelakan waktu mereka habis bersama sebagian dari masa depan mereka. Mereka banyak berkorban dan mereka tetap rendah hati. Kalau memang segala usaha akhirnya juga tetap sama saja... berarti memang ada yang tidak direstui dari perjuangan tanpa tanda jasa ini. Zaman tidak merestuinya, dan mahasiswa-mahasiswa sekarang menjadi tak beradab, hanya mengamini dirinya sebagai calon pekerja saja.

Untuk para pejuang di Lembaga terkecilnya masing-masing, di kepengurusan kotanya masing-masing, di tataran yang lebih tinggi... kita bersaudara dan bertautan bukan karena kebutuhan saja, tetapi karena visi-misi kita untuk menjaga sedikit peradaban (minimal) di lingkaran-lingkaran terkecil saja. Beberapa minggu lagi... Mari bebenah saudara...

Jangan biarkan kesakitan-kesakitan yang kita rasakan menjadi dosa turunan bagi generasi selanjutnya. Biarkan batas-batas itu ada... jangan sampai membuat titik-titik kejenuhan dan berujung pada acuh. Jalani saja yang sepatutnya kita pertanggung jawabkan dan tebuslah dosa kalian satu persatu. Semoga semesta berpihak pada perjuangan kita yang nampak sia-sia dimata orang.


Jakarta, 26 Desember 2013
Terseling tawa dan air mata, untuk para pejuang tanpa tanda jasa
Kalian yang tahu rasanya, kalian kuat.

Gerarda Agriveta
12.45 WIB

Kamis, 21 November 2013

Kesakralan Merajut

Sebuah kesakralan datang dari proses yang panjang. Dilakukan penuh dengan rasa, penuh dengan doa, dan penuh dengan komunikasi. Itulah merajut bagiku, minimal untukku.

Merajut adalah sebuah proses panjang yang ada letih, bosan, kesalahan, kerumitan, dan kesetiaan di dalamnya. Karana kau melakukan pola yang sama berulang-ulang, harus memperhatikan setiap tarikan benang, berkomunikasi dengan tangan secara eksklusif, dan harus membunuh rasa bosan. Tak lupa, mencari waktu luang dalam kesibukan sehari-hari untuk berkonsentrasi agar setiap lilitan benang itu rapi. Ini semacam proses melatih kesetiaan: 1) di waktu senang waktu awal-awal membuat rajutan, 2) di waktu bosan saat ditengah-tengah proses pengerjaan, dan 3) di waktu sulit ketika harus menutup atau menuntaskan rajutan itu sendiri.

Dari merajut itu, banyak pelajaran yang bisa kudapatkan. Aku belajar membunuh rasa bosan, melatih ketenangan dalam menghadapi masalah, belajar menghargai proses, dan belajar santai, tidak tergesa-gesa dan tidak men-judge dari hasil awal. Sedikitnya, belajar untuk lebih mencintai apa yang sudah kita kerjakan dan dapatkan, apapun hasilnya… itulah hasil keringat dan perjuanganmu. Lantas aku bisa lebih banyak bersyukur.

Merajut itu harus dilakukan sepenuh hati. Niat harus dilaksanakan, tidak sekedar omong saja. Kenapa sepenuh hati? Karena jika merajut tidak dilakukan dengan sepenuh hati biasanya ia akan terhenti ditengah jalan, tidak selesai dan kamu merasa bosan lalu mulai merajut hal yang lain. Tapi tidak pernah selesai. Merajutlah dengan sepenuh hati, dengan ketulusan, dengan kesetiaan, dengan kesabaran, dengan segenap perasaan dan perhatian.

Mencintai proses merajut sama seperti belajar mencintai diri, mencintai kekasih, dan belajar mensyukuri apa yang telah kita dapatkan. Prosesnya sangat membutuhkan waktu. Seperti mencintai, butuh proses yang panjang, bahkan setelah kau memilih, kau harus belajar mencintai terus-menerus sepanjang sisa usiamu. Lagi, butuh ketulusan, kesetiaan, kesabaran, dan  perhatian.

Maka, ketika aku merajut untukmu, disitulah kuluapkan segala perasaanku, doaku, dan niatku. Jangan tergesa-gesa, kita lakukan dengan tenang dan nikmati prosesnya. 

Kamis, 13 Desember 2012

Repot menjadi Orang (yang dianggap) Dewasa #2

"Kalau sudah lulus nanti mau kerja apa, mbak?"
     "Mbuh, ga tau, ma, mau kerja apa... paling masih di dunia tour dan travel"
"Kan sebentar lagi kamu lulus, kalau sudah kerja mapan kamu yang biayain adikmu kuliah ya?"
     "Akkk.... (tersedak) Iya, ma..."

Memang setiap mausia yang lahir ke dunia ini punya tanggung jawab bawaan yang kadang bisa juga disebut takdir. Takdir anak pertama, selalu menjadi tulang punggung keluarga ketika kepala keluarga sudah tidak bisa menopang sendirian, harus bisa mencontohkan yang baik untuk adik-adiknya.

Takdir hidup memang tidak bisa dielakkan. Seiring dengan bertambahnya usia, beban yang ditanggung makin terasa saja. Masalah makin kompleks dan pemaknaan terhadap sesuatu menjadi lebih rumit. Satu hal yang bisa dilakukan untuk takdir: dijalani dengan tulus dan ikhlas. Saya masih percaya bahwa Sang Pencipta akan membukakan jalan bagi segala makhluk. Pasti ada jalan untuk mencapai kebahagiaan suatu saat nanti. Kuncinya: Berusaha dan Percaya bahwa roda hidup masih dan akan terus berputar.

Mau menangis dan merengek-rengek lagi untuk menjadi anak kecil lagi bukanlah jalan yang logis, jadi tetaplah saja melangkah. Kalau lelah berjalan cepat, berhenti dan istirahat saja sejenak. Ah, sudah cukup dulu istirahatnya kali ini.... mari berjalan lagi.

Repot menjadi Orang (yang Dianggap) Dewasa #1

"Hidup ini hanya persinggahan. Karena sejatinya rumah kita adalah ketiadaan. Semua hanya titipan, maka jangan serakah untuk memberikan apa yang telah menjadi hak mereka. Karena hidup hanya satu kali, rasakan dulu isi dunia, dan kita akan bisa memilih dengan lebih bijaksana."

Hawa dingin malam ini terasa makin syahdu dengan lagu-lagu melankoli. Ah, melankoli... kenapa akhir-akhir ini kau sering mampir di malam-malamku?

Senin, 10 Desember 2012

Perjalanan dalam Cerita #2


Bicara perjalanan lagi, perjalanan adalah sebuah pencarian. Pencarian ketenangan hati; rasa damai. Sebab rasa damai kadang bisa ditemui dalam sebuah sepi dalam keramaian jalanan. Tenang pun dapat merasuk ke jiwa yang paling sudut ,di ujung-ujung kepalsuan diri. Dalam perjalanan kita tidak perlu menjadi siapa atau berpura-pura menjadi apa. Kadang dialog-dialog yang mendalam tercipta antara hati (perasaan) dan otak (logika) sambil melihat wajah-wajah tiap kota yang dilewati. Juga menikmati udara yang lain di permukaan bumi yang lain.

Perjalanan seorang diri membuat saya mampu menikmati setiap detik yang indah: jantung masih berdetak, paru-paru masih bekerja menarik dan menghembuskan nafas, mata masih diberi penglihatan akan perbedaan tiap-tiap daerah yang dilalui, dan kaki masih diizinkan melangkah. Bertegur sapa dengan orang yang duduk disebelah kanan-kiri, berbagi cerita dan pengalaman hidup. Hidup mereka yang keras, hidupku yang sedang keras, dan wejangan-wejangan dari mereka yang tahu lebih dulu tentang pahit asinnya hidup. Matur nuwun Gusti Pangeran.

Saya memang jatuh cinta pada perjalanan dan manusia. Tapi saya juga tidak bisa memungkiri bahwa sewaktu-waktu saya rindu rumah dan butuh pulang. Perjalanan jauh itu kadang melelahkan. Mungkin sangat mengasyikkan bagi mereka yang memiliki prinsip “rumah saya dimana-mana selama beratapkan langit beralaskan tanah”. Mereka bisa menikmati perjalanan tanpa khawatir adanya siksaan yang bernama ‘rindu rumah’.

Dimana ada perjalanan, pasti meninggalkan rumah. Kecuali kalau kau keong, siput, kura-kura, atau penyu yang bisa membawa rumah kemana-mana ia mau. Saat ini adalah saat untuk melakukan perjalanan. Hanya saja kerap kali aku merindukan rumahku yang kutitipkan agar ia tetap terjaga keindahan serta kesehatannya.

Orang pecinta perjalanan identik dengan pengelana. Saya bukan pengelana yang melulu mencintai dan terus jatuh cinta pada perjalanan. Saya yakin suatu saat pasti saya akan senang berada di rumah dalam waktu yang tak terbatas. Hanya saja sekarang saya masih ingin berkelana hingga saatnya tiba untuk benar-benar pulang ke rumah. Jika sudah pulang nanti, saya akan mengajakmu untuk melakukan perjalanan bersama-sama, itu pun kalau kau suka. Tidak menutup kemungkinan juga kalau aku menemukan rumah lain dalam perjalanan atau rumah saya yang dulu dihuni orang ang lebih mampu menjaganya dengan baik.


Sudah larut, sebaiknya istirahat dulu. Tidak ada lagi rokok dan mulai mengurangi minum kopi. Hanya ingin hidup dengan pola yang lebih sehat. :)

Perjalanan dalam cerita


Perjalanan. Ada banyak cerita dibalik sebuah bis kota antar provinsi yang kerap ku tumpangi untuk menuju timur. Ada rindu-rindu yang dititipkan di kota-kota yang pernah dan akan kukunjungi. Ya, setidaknya menjadi penyemangat walau amunisi hampir habis.

Hidup ini memang kurang lengkap tanpa berjalan-jalan. Mencoba hidup di tempat lain, walau tidak lama. Mengicipi rasa kudapan dan udara di daerah-daerah. Perjalanan. Berkelana. Melepas penat di sebuah daerah baru dan mencari udara baru karena menghirup udara yang itu-itu saja kadang menjenuhkan juga.

Pada sebuah perjalanan yang paling mengasyikan adalah bincang-bincang. Sebuah perbincangan dengan siapa saja yang kita temui dijalan, adalah pengalaman yang membuat saya ingat akan betapa kecilnya saya dan betapa cintanya Sang Maha Kuasa kepada saya. Dalam perjalanan pula, siapapun yang menjadi teman mengobrol seakan menjadi malaikat. Mereka mengingatkan tentang hal-hal kecil atau besar, yang mungkin saya lupa atau bahkan tidak pernah tahu.

Bincang-bincang, perkara pengalaman yang tak membatasi obrolan karena usia atau asal. Perjalanan mengajarkan banyak cara-cara, kehidupan-kehidupan, dan pandangan-pandangan yang lain. Menghadirkan kesegaran karena kembali diingatkan alam bahwa ada takdir dalam sebuah pertemuan, selain takdir hidup dan mati.

Pertemuan, cerita, pengalaman, menikmati sendiri: terangkum dalam perjalanan. Perjalanan seorang diri memang mengasyikan, mungkin perjalanan dengan cara lain juga bisa mengasyikan jika ada seseorang disamping kita yang mengusap-usap kepala ketika mulai lelah dan terkantuk dalam sebuah perjalanan.

Senin, 08 Oktober 2012

Manusia dewa dan tuhannya


Biarkan tapak-tapak kecil menari diujung-ujung bumi. Merasakan setiap tekstur permukaan yang tidak sama. Ketika jejaknya disapu angin, tiap liuk-liuk langkah barunya tak kan hilang arah.

Alam adalah rumah terindah yang memberi pemaknaan sempurna pada hidup. Maka dengan menjaga keharmonisan, itu cukup. Untuk apa melangkah terlalu jauh kalau pada akhirnya akan kembali lagi pada cara yang lampau?

Bukankah cara-cara hidup hanya berputar saja... progress suatu saat akan jadi regress, dan regress bisa saja menjadi progress. Ya, sejarah memang tidak pernah berulang. Tapi esensi kejadian masih mungkin terjadi lagi jika manusia tidak pernah mempelajari sejarah-sejarahnya. Siapa yang tahu manusia salah atau benar jika benar atau salah berubah setiap waktu, berubah di setiap ruang...

***
Agama
Mencapai kebahagiaan bukan dengan menjalankan setiap perintah agama. Agama telah menjadi tuhan dan dewa-dewa baru dalam sejarah manusia. Menjalankan agama dengan ‘saklek’ tanpa melihat konteks zaman dan budaya menjadi tindakkan bodoh. Apalagi sampai bertengkar atau menjelek-jelekkan agama lain. Heh, apa kamu yakin Allah yang Maha Besar bisa disembah dengan satu cara? Apakah Allah yang Maha segalanya itu punya agama? Lantas tanyakan saja segera, “Tuhan, apa agama-Mu?”

Selasa, 02 Oktober 2012

Sendiri


Menapaki sendiri lagi. Menikmati sakit yang baru lagi. Kenapa jadi menikmati sakit? Kalau masokis ternyata bermakna untuk memberikan ruang bagi rasa sakit dalam hidup, aku pikir tidak masalah, minimal untukku. Yah, menikmati sendiri lagi setelah lama lupa kata sunyi.

Memaknai kejadian-kejadian sendiri, tanpa intervensi, sendiri. Belum tuntas memaknai diri, sekarang aku mencoba untuk tidak peduli. Kadang kita memang butuh untuk pura-pura buta, pura-pura tuli, pura-pura bisu, bahkan pura-pura mati. Tiba waktunya refleksi.

Saat-saat menyalakan lagi berani sebelum nanti harus dimatikan lagi. Membuka lagi kesakitan-kesakitan yang telah lama direpresi sebelum nanti tak bisa egois lagi. Mencari bahagia-bahagia dan ingin-ingin sebelum nanti lupa lagi arti bahagia dan tak punya ingin. Mencari, waktu untuk mencari apa yang sebenarnya ingin kutemui dan ingin kumengerti.

Menikmati sendiri, sambil menyulut kretek dan minum kopi. Hanya butuh sejenak menenangkan dan mengolah lagi jiwa, pikiran, dan hati. Menyimak lagu ‘meniti hutan cemara’ sambil berbaikkan dengan waktu yang terus melaju. Ingin kembali bersahabat dengan alam untuk melihat sisi manusiaku yang pernah hampir mati.