Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 November 2015

Perjalanan Pagi di Gunung Putri

Matahari telah menyingsing. Dalam kesunyian pagi di jalanan terlihat dua petani jahe menundukkan kepalanya. Mereka terlihat sedih dan sekali mengusap mata mereka.


Menyedihkan pemandangan pagi yang katanya cerah. Namun seketika setelah melihat dua petani jahe tadi, seluruh keindahan menjadi buram. Akankah nasib pemelihara makanan kita akan semiris itu?

Walaupun mereka bilang bahwa kita selalu butuh segala lapisan untuk menjaga keberlangsugan hidup, apakah mereka harus sesuah itu?

Pagi ini terus terngiang wajah sedih mereka karena aku tidak tahu harus berbuat apa. Sementara dikejar waktu karena harus datang ke kantor tepat waktu, sakit wajah mereka masih terasa pedih di dada. Dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Menyakitkan. Ketidakberdayaan adalah menyakitkan. Rasa kasihan tanpa ketidak mampuan adalah sakit yang memilukan.

Matahari telah meninggi, dan masih terasa pedih didada.

Gunung putri
7.49 am

Kamis, 26 Desember 2013

Just three of us

Christmas is not important without laugh and togetherness with family. And again, I'm crying this year even if I give you my best smile. Here,inside my heart... I miss my family in a complete formation. It's been a long time to be separated.

It's kind of late post of the picture but, here I want to share a pile of my happiness... just three of us. ym beloved mother and youngest sister.

We called this as 'sisterhood' 




A lot of my friend said that we're just 11-12-13... means look alike... :) isn't it?

Hopefully my Dad get well soon and be back soon to Jakarta, and for my brother, have fun in Jogjakarta with our big family..

Jakarta, 24 Dec 2013
Few hours before Christmas

Batas Titik Dosa


Setiap benda, hidup ataupun mati, memiliki batas... batas-batas itu sekarang mencapai titik kejenuhan, titik kehancuran, titik kepengkuan, titik-titik itu menjadi dosa... dosa besar ketika kita tidak memenuhi tanggung jawab karena sudah terlanjur tercemplung kedalamnya, dan dosa besar pada keluarga yang telah mempercayai kita untuk menjadi orang berguna dalam masyarakat selepas kuliah nanti.

Awalnya aku memang tidak tahu bahwa semua akan menjadi serumit ini. Kesadaran. Ini bisa menjadi kutukan bisa juga menjadi anugerah. Kali ini sebut saja kesadaran membawaku pada keduanya... Dapat mempelajari banyak hal terutama kehidupan dan mendapat tekanan dari berbagai pihak. Aku sungguh tidak tahu bahwa akan berujung runyam, seperti sekarang ini.

Keyakinan telah membawaku untuk mengamini bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia di muka bumi. Setiap usaha akan membawa kita pada sebuah masa depan yang berasal dari pilihan-pilihan kita. Pilihan-pilihan itu membentuk sebuah jalan dan jangan salahkan keadaan atau yang lainnya. Karena, masa depanmu, kamu sendiri yang membuatnya kecuali tentang rejeki, jodoh, kelahiran, dan kematian... hanya semesta yang tahu.

Sekarang tanpa rokok dan kopi harus kuhajar sendirian perasaan-perasaanku. Membunuh ego dan angan tentang cita-cita. Ingin mengutuk kodratku sebagai kelas menengah sok berjuang untuk hal yang lebih baik, tapi yang hidupnya dirundung cemas. Jika benar aku menyalahkan, maka ini  akan menjadi sebuah kesalahan besar. Ingin membuat sebuah perbaikan, tetapi yg terjadi malah meneruskan dosa leluhur/senior dan membuat dosa lainnya sehingga mengecewakan banyak insan. Tak sepantasnya kita menyalahkan keadaan atau takdir... Solusinya hanya satu, menjalani dengan ikhlas. Lalu semua menjadi sepi, seakan terdiam... hanya terdengar sayup tuduhan dan tudingan.

Walaupun waktu banyak yang terbuang, tenaga terkuras, tabungan sudah habis bahkan sampai ngutang teman untuk mengunjungi kota-kota. Tak lupa, beberpa diantaranya mengorbankan hati hingga hancur berkeping-keping, di sumpah serapahi orang lain, di tuntut sana-sini, di maki orang tua... Hancur-hancuran. Sehancur-hancurnya. Bahkan kepingan terkecil itu lebih kecil dari debu, hingga sulit disapu. Itulah kenyataannya.

Ku akui, sempat aku lupa daratan. Melupakan sebentar tanggung jawabku atas sebuah mahakarya pertanggungan kuliah selama  4 tahun dan hanya sibuk bekerja pun berorganisasi. Salah, itu adalah kesalahanku, jangan ditiru. Aku jug pernah melupakan orang-orang terdekat dan terbaik dalam hidupku, yaitu keluargaku, keluarga biologis dan keluarga kulturalku. Aku telah menyakiti mereka atas keputusan-keputusanku. Sepertinya tak hanya aku, orang lain yang berjuang di tataran nasional dan kota pasti juga sudah banyak mengorbankan hal-hal penting dalam hidup mereka untuk tujuan yang mulia... mencerdaskan dan menyadarkan agar tetap saling bertautan.

Aku tetap sangat salut dengan saudara-saudaraku seperjuangan yang masih rela menduduki posisi itu dengan ikhlas dan dengan rendah hati. Bahwasannya, masih ada pemimpin yang sungguh-sungguh melayani, pemimpin yang rela mengorbankan semua yg dia miliki, pemimpin yang akan menjadi paling terakhir dalam barisan, pemimpin yang merakyat dan duduk ditengah-tengah kerumunan bersama rakyatnya... Kalian telah melampaui batas kemampuan diri. Masih selalu ingat dengan bantuan doa orang-orang terdekat yang kita sakiti, lalu berjanji untuk menebusnya setelah tugas-tugas yang telah disepakati bersama selesai. Aku sangat menghargai usaha dan kerja keras kalian yang penuh ketulusan... biarlah penebusan dosa-dosa kita pada orang-orang tersayang diterima oleh semesta sehingga berujung indah kawan.
---

                Dengan mudah, mungkin yang lain bisa berkata. Tapi kata yang terucap hanya sebatas permukaan karena mereka tidak penah tahu berkecimpung di dalamnya. Mengumpat memang mudah, yang sulit adalah bertahan dan tetap mau memperbaiki kesalahan yang ada, dan memaklumi bahwa tidak ada sesuatu yg sempurna. Kuatlah dan sabarkanlah hatimu kawan... tidak ada sesuatu yang sia-sia. Biarkan saja.

Memang, bisa saja setiap orang menghakimi orang-orang yang tetap bertahan tersebut sebagai orang bodoh, pengku, bebal, dan tidak berotak karena mereka telah mengorbankan masa depannya. Sesungguhnya mereka sudah sadar sepenuhnya akan ketidak berasan yang terjadi... mereka semua ingin memperbaikinya dan merelakan waktu mereka habis bersama sebagian dari masa depan mereka. Mereka banyak berkorban dan mereka tetap rendah hati. Kalau memang segala usaha akhirnya juga tetap sama saja... berarti memang ada yang tidak direstui dari perjuangan tanpa tanda jasa ini. Zaman tidak merestuinya, dan mahasiswa-mahasiswa sekarang menjadi tak beradab, hanya mengamini dirinya sebagai calon pekerja saja.

Untuk para pejuang di Lembaga terkecilnya masing-masing, di kepengurusan kotanya masing-masing, di tataran yang lebih tinggi... kita bersaudara dan bertautan bukan karena kebutuhan saja, tetapi karena visi-misi kita untuk menjaga sedikit peradaban (minimal) di lingkaran-lingkaran terkecil saja. Beberapa minggu lagi... Mari bebenah saudara...

Jangan biarkan kesakitan-kesakitan yang kita rasakan menjadi dosa turunan bagi generasi selanjutnya. Biarkan batas-batas itu ada... jangan sampai membuat titik-titik kejenuhan dan berujung pada acuh. Jalani saja yang sepatutnya kita pertanggung jawabkan dan tebuslah dosa kalian satu persatu. Semoga semesta berpihak pada perjuangan kita yang nampak sia-sia dimata orang.


Jakarta, 26 Desember 2013
Terseling tawa dan air mata, untuk para pejuang tanpa tanda jasa
Kalian yang tahu rasanya, kalian kuat.

Gerarda Agriveta
12.45 WIB

Kamis, 21 November 2013

Kesakralan Merajut

Sebuah kesakralan datang dari proses yang panjang. Dilakukan penuh dengan rasa, penuh dengan doa, dan penuh dengan komunikasi. Itulah merajut bagiku, minimal untukku.

Merajut adalah sebuah proses panjang yang ada letih, bosan, kesalahan, kerumitan, dan kesetiaan di dalamnya. Karana kau melakukan pola yang sama berulang-ulang, harus memperhatikan setiap tarikan benang, berkomunikasi dengan tangan secara eksklusif, dan harus membunuh rasa bosan. Tak lupa, mencari waktu luang dalam kesibukan sehari-hari untuk berkonsentrasi agar setiap lilitan benang itu rapi. Ini semacam proses melatih kesetiaan: 1) di waktu senang waktu awal-awal membuat rajutan, 2) di waktu bosan saat ditengah-tengah proses pengerjaan, dan 3) di waktu sulit ketika harus menutup atau menuntaskan rajutan itu sendiri.

Dari merajut itu, banyak pelajaran yang bisa kudapatkan. Aku belajar membunuh rasa bosan, melatih ketenangan dalam menghadapi masalah, belajar menghargai proses, dan belajar santai, tidak tergesa-gesa dan tidak men-judge dari hasil awal. Sedikitnya, belajar untuk lebih mencintai apa yang sudah kita kerjakan dan dapatkan, apapun hasilnya… itulah hasil keringat dan perjuanganmu. Lantas aku bisa lebih banyak bersyukur.

Merajut itu harus dilakukan sepenuh hati. Niat harus dilaksanakan, tidak sekedar omong saja. Kenapa sepenuh hati? Karena jika merajut tidak dilakukan dengan sepenuh hati biasanya ia akan terhenti ditengah jalan, tidak selesai dan kamu merasa bosan lalu mulai merajut hal yang lain. Tapi tidak pernah selesai. Merajutlah dengan sepenuh hati, dengan ketulusan, dengan kesetiaan, dengan kesabaran, dengan segenap perasaan dan perhatian.

Mencintai proses merajut sama seperti belajar mencintai diri, mencintai kekasih, dan belajar mensyukuri apa yang telah kita dapatkan. Prosesnya sangat membutuhkan waktu. Seperti mencintai, butuh proses yang panjang, bahkan setelah kau memilih, kau harus belajar mencintai terus-menerus sepanjang sisa usiamu. Lagi, butuh ketulusan, kesetiaan, kesabaran, dan  perhatian.

Maka, ketika aku merajut untukmu, disitulah kuluapkan segala perasaanku, doaku, dan niatku. Jangan tergesa-gesa, kita lakukan dengan tenang dan nikmati prosesnya. 

Senin, 12 Agustus 2013

Cerita random tentang Jawa Timur

Sebuah cerita random, datang dari sebuah kesakitan dan kegelisahan melihat alam yang semakin tidak menentu.

Yah, kadang butuh mood khusus untuk membuat tulisan mengalir. Emosi yang meluap-luap. Kalau ia tidak segera dituliskan makan akan menjadi kelupa-lupa.

Sudah lama tidak menulis serius. Kadang ada mood tapi ga bawa leptop, nulis di hape kecil walaupun smart tapi membuat mood menulis hilang.
Hahh! Akhirnya punya sedikit waktu untuk bercerita tentang beberapa bulan belakangan. Beberapa kali bolah balik Yogyakarta sampai ujung pulau Jawa, setiap daerah menyimpan berbagai macam cerita. Tentang teman, tentang kamu, tentang binatang,tentang manusia yang seperti binatang. Tentang sebuah kekayaan alam Indonesia yang tak pernah habis dikeruk korporat dan oknum-oknum penjahat alam.
Ini baru tanah Jawa.

PAITON
Pertama kalinya saya menganga melihat sebuah PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di daerah Situbondo-Bondowoso, Paiton. Malam ternyata menyembunyikan tumpukan batu-batu bara berkilo-kilo meter panjangnya. Ketika siang kau akan melihat berratus-ratus kapal pembawa batu bara dari Kalimantan ke Paiton untuk menghidupi listrik di Pulau Jawa, Bali dan Madura. Begitu banyak dan begitu besar. Bisa dibilang itu adalah pemindahan bukit-bukit hijau di Kalimantan menjadi tumpukan bukit hitam pekat. Hijau yang dirampas dari Kalimantan itu semata-mata dibawa ke tanah Jawa untuk menghidupi listrik. Padahal di Kalimantan, masih banyak kampong-kampung belum berlistrik.

MERU BETIRI
Taman nasional yang di dalamnya ada perkebunan pribadi. Masih banyak hewan disana, seperti merak, monyet abu-abu, monyet hitam, biawak besar, jaguar hitam, rusa, babi hutan, beberapa jenis serangga aneh. Masih juga bisa ditemukan bunga Rafflesia jenis kecil disana. Masalahnya bukan pada hewannya, tapi pada masyarakat yag hidup disana. Bisa dikatakan Primitif atau Purba. Sebenarnya cara itu sangatlah ekologis karena rumah masih beratapkan jerami, beralaskan tanah, bertembok anyaman bamboo atau triplek. Tapi disamping-sampingnya persis bersebelahan dengan kandang sapi yang sangat kurus, anjing-anjing yang mengenaskan. Bahkan pemilik-pemilik sapi dan rumahnya juga kurus dan sudah sepuh. Lain kai akan kuceritakan detilnya… sekarag belum banyak yang bisa ku oleh dari pengalaman yg lalu.

PULAU MERAH
Tambang intan dan Emas dari perusahaan Amerika, Australia, dan Jepang mengeruk habis kekayaan yang terdapat di perut pulau itu. Merkurinya mencemari biota laut yang hidup di dekat taman Nasional Meru Betiri. Mulai banyak penyu yang terkena penyakit. Telur abnormal semakin banyak, anak-anak penyu (tukik) mulai mengalami ke-albino-an. Ranger di konservasi penyu yang tidak berkompeten. Ah, aku sungguh membenci mereka yang tidak memperlakukan sesamanya, hewan, dan tumbuhan. Tapi biar Alam yang membalasnya….

Segitu dulu ah, sudah harus segera meluncur ke Jogja.


Kertosono, 12 Agutus 2013

Senin, 17 Desember 2012

Please don’t count on me


“Papa, aku kangen”. Kalimat itu tak pernah terucap satu kalipun dari mulutku. Begitu ia keluar, aku selalu tau akan beriringan dengan air mata karena keluar dari hati yang paling dalam.

Satu dua tahun bukana waktu yang singkat. Hingga tiba saatnya nanti tanggal 25 Desember, dua tahun sudah tidak bisa berkumpul dengan utuh…

Sekali kuberanikan diri menulis di wall facbook yang jarang dibukanya. “Pa, natalan jadi pulang ga?”
Karena sinyal untuk berkiriman pesan atau menelpon sangat susah, dan kadang kujumpai ia online. Butuh waktu lebih dari 2 jam untuk mencapai perkotaan. Pulau disebrang sana menjadi saksi kerinduannya untuk keluarga. Ketika Papa menyapaku di fb aku menjadi kegirangan yang sering berubah menjadi air mata butiran rindu, hampir 2 tahun… Sekedar, “Lg ngapain mbak? Jam segini lagi dimana?”.

Aku tidak berani bilang bahwa sebenarnya aku sangat rindu rumah, rindu mama, rindu papa, rindu berkumpul dengan kedua adikku. Karena mereka pasti juga punya kerinduan yang menggumpal-gumpal hampir tak tertampung lagi. Bahkan kerap ketika sakit aku tidak berani cerita… sakit bukan untuk dibagi. “Kamu jaga kesehatan, kalau sakit kan yng repot bukan cuma kamu. Mama, Papa jauh mbak” Itu yang terakhir dari Papa, larut malam, 3 minggu lalu, dan memecah tangis sejadi-jadinya.

Entah apa rasanya menjadi Mama. Ah, lupa, sebentar lagi hari ibu. Entah hari apapun itu, Mama selalu ada dalam doa-doa yang tak perlu ditunjukkan. Mama selalu menjadi idolaku tersayang, karena ia mengajarkan ketegaran hati, kesabaran, kerendahhan hati, dan kemandirian. Ia tidak pernah lupa mengingatkan bahwa manusia itu sangat kecil dan suatu saatnya jika kita harus kembali ke tanah kita harus ikhlas dan waktu yang telah diberikan harus dijaga serta digunakan sebaik-baiknya.

Aku bahkan tidak kuat menahan rasa rindu saat ditelpon Mama. “Ma, aku kangen. Kangen sama Papa juga.” Tangis kami pecah. “Ya di telpon dong papanya. Mama juga pengennya semua pulang kita kumpul dirumah. Tapi kan memang ga bisa, jangan dipaksain, dijalanin aja. Mama juga bingung, Adek juga nanya kemarin…katanya: mbak sama mas ga jadi pulang? Papa ga pulang juga ya, Ma? Terus kita natalan gimana dong?” Kembali tangis terpecah. Segera kusudahi, tidak kuat lagi.

Semoga berkat tidak turun ketika orang sedang berkumpul saja. Semoga mereka yang tinggal berjauhan dari orang-orang yang dicintai akan mendapatkan kebahagiaan juga. Natal kali ini tidak terasa. Ada rindu. Sendu.

*Makin sendu lagi dengan iringan musik Dear God oleh Avenged Sevenfold.

I won’t be home for christmas, please don’t count on me…

Kamis, 13 Desember 2012

Repot menjadi Orang (yang dianggap) Dewasa #2

"Kalau sudah lulus nanti mau kerja apa, mbak?"
     "Mbuh, ga tau, ma, mau kerja apa... paling masih di dunia tour dan travel"
"Kan sebentar lagi kamu lulus, kalau sudah kerja mapan kamu yang biayain adikmu kuliah ya?"
     "Akkk.... (tersedak) Iya, ma..."

Memang setiap mausia yang lahir ke dunia ini punya tanggung jawab bawaan yang kadang bisa juga disebut takdir. Takdir anak pertama, selalu menjadi tulang punggung keluarga ketika kepala keluarga sudah tidak bisa menopang sendirian, harus bisa mencontohkan yang baik untuk adik-adiknya.

Takdir hidup memang tidak bisa dielakkan. Seiring dengan bertambahnya usia, beban yang ditanggung makin terasa saja. Masalah makin kompleks dan pemaknaan terhadap sesuatu menjadi lebih rumit. Satu hal yang bisa dilakukan untuk takdir: dijalani dengan tulus dan ikhlas. Saya masih percaya bahwa Sang Pencipta akan membukakan jalan bagi segala makhluk. Pasti ada jalan untuk mencapai kebahagiaan suatu saat nanti. Kuncinya: Berusaha dan Percaya bahwa roda hidup masih dan akan terus berputar.

Mau menangis dan merengek-rengek lagi untuk menjadi anak kecil lagi bukanlah jalan yang logis, jadi tetaplah saja melangkah. Kalau lelah berjalan cepat, berhenti dan istirahat saja sejenak. Ah, sudah cukup dulu istirahatnya kali ini.... mari berjalan lagi.

Selasa, 11 Desember 2012

Bocah-bocah Ajaib



Matahari sore ini sedang bersahabat, bersepeda adalah kegiatan asyik untuk sekedar mencari keringat. Sekaligus melepas penat tentunya. Menikmati udara sore kota ini dengan santai, jarang sekali terjadi. Memaknai lagi jejak yang sudah dibuat kemarin-kemarin dan mengeluarkan emosi dengan tidak melampiaskan ke orang lain. Kegelisahan tidak juga meredup sepanjang jalan. Sudah semakin sore, saatnya bermain dengan bocah-bocah penyemangat di hari yang mendung.

Saatnya pulang dan belajar. Beruntung sudah sampai rumah. Hujan deras malam ini menambah kesenduan dalam gelisah yang tak kunjung reda. Jadi teringat sebuah film, pada bagian epilog tertulis, “a story should be written to make they understand”. Letup-letup ingin menulis mengalahkan niat belajar untuk mempersiapkan ujian pragmatics.
***
Setelah vakum 2 bulan dari Code Pintar, kounitas belajar dan bermain bersama anak-anak yang tinggal di pinggiran kali Code, kegelisahan kembali menghampiri. Kali ini ia datang dari waktu. Anak-anak ini tumbuh cepat sekali. Mereka sudah bertambah tinggi, semakin aktif, dan semakin mampu menyimak apa yang mereka rasakan dengan indera mereka.

Banyak kosa kata baru dan perilaku mereka yang tidak sama menaggapi sesuatu. Hanya saja perubahan itu membuat saya merasa asing dan khawatir. Ku pikir mereka masih kecil, belum tau kerasnya dunia. Asumsiku salah besar, mereka tahu betapa beratnya hidup, mereka tertekan. Hanya saja mereka masih terlalu kecil untuk mengartikannya, tawa-tawa mereka menutupi rasa takut. Mereka menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, bicara tentang perempuan berpakaian minimalis di sebuah majalah, bicara tentang kawin (hubungan seksual), dan membodoh-bodohi temannya jika tidak bisa menjawab pertanyaan.

Sepertinya dulu waktu seumuran mereka, aku belum berfikir apa yang mereka pikirkan. Aku bahkan bisa membantah ibuku saat ia mengajariku dengan cara yang berbeda dengan apa yang diajarkan di sekolah karena aku memahami apa yang diajarkan guruku. Tapi mereka belum bisa menguasai pelajaran yang mereka pelajari.

Senin, 10 Desember 2012

Perjalanan dalam Cerita #2


Bicara perjalanan lagi, perjalanan adalah sebuah pencarian. Pencarian ketenangan hati; rasa damai. Sebab rasa damai kadang bisa ditemui dalam sebuah sepi dalam keramaian jalanan. Tenang pun dapat merasuk ke jiwa yang paling sudut ,di ujung-ujung kepalsuan diri. Dalam perjalanan kita tidak perlu menjadi siapa atau berpura-pura menjadi apa. Kadang dialog-dialog yang mendalam tercipta antara hati (perasaan) dan otak (logika) sambil melihat wajah-wajah tiap kota yang dilewati. Juga menikmati udara yang lain di permukaan bumi yang lain.

Perjalanan seorang diri membuat saya mampu menikmati setiap detik yang indah: jantung masih berdetak, paru-paru masih bekerja menarik dan menghembuskan nafas, mata masih diberi penglihatan akan perbedaan tiap-tiap daerah yang dilalui, dan kaki masih diizinkan melangkah. Bertegur sapa dengan orang yang duduk disebelah kanan-kiri, berbagi cerita dan pengalaman hidup. Hidup mereka yang keras, hidupku yang sedang keras, dan wejangan-wejangan dari mereka yang tahu lebih dulu tentang pahit asinnya hidup. Matur nuwun Gusti Pangeran.

Saya memang jatuh cinta pada perjalanan dan manusia. Tapi saya juga tidak bisa memungkiri bahwa sewaktu-waktu saya rindu rumah dan butuh pulang. Perjalanan jauh itu kadang melelahkan. Mungkin sangat mengasyikkan bagi mereka yang memiliki prinsip “rumah saya dimana-mana selama beratapkan langit beralaskan tanah”. Mereka bisa menikmati perjalanan tanpa khawatir adanya siksaan yang bernama ‘rindu rumah’.

Dimana ada perjalanan, pasti meninggalkan rumah. Kecuali kalau kau keong, siput, kura-kura, atau penyu yang bisa membawa rumah kemana-mana ia mau. Saat ini adalah saat untuk melakukan perjalanan. Hanya saja kerap kali aku merindukan rumahku yang kutitipkan agar ia tetap terjaga keindahan serta kesehatannya.

Orang pecinta perjalanan identik dengan pengelana. Saya bukan pengelana yang melulu mencintai dan terus jatuh cinta pada perjalanan. Saya yakin suatu saat pasti saya akan senang berada di rumah dalam waktu yang tak terbatas. Hanya saja sekarang saya masih ingin berkelana hingga saatnya tiba untuk benar-benar pulang ke rumah. Jika sudah pulang nanti, saya akan mengajakmu untuk melakukan perjalanan bersama-sama, itu pun kalau kau suka. Tidak menutup kemungkinan juga kalau aku menemukan rumah lain dalam perjalanan atau rumah saya yang dulu dihuni orang ang lebih mampu menjaganya dengan baik.


Sudah larut, sebaiknya istirahat dulu. Tidak ada lagi rokok dan mulai mengurangi minum kopi. Hanya ingin hidup dengan pola yang lebih sehat. :)

Perjalanan dalam cerita


Perjalanan. Ada banyak cerita dibalik sebuah bis kota antar provinsi yang kerap ku tumpangi untuk menuju timur. Ada rindu-rindu yang dititipkan di kota-kota yang pernah dan akan kukunjungi. Ya, setidaknya menjadi penyemangat walau amunisi hampir habis.

Hidup ini memang kurang lengkap tanpa berjalan-jalan. Mencoba hidup di tempat lain, walau tidak lama. Mengicipi rasa kudapan dan udara di daerah-daerah. Perjalanan. Berkelana. Melepas penat di sebuah daerah baru dan mencari udara baru karena menghirup udara yang itu-itu saja kadang menjenuhkan juga.

Pada sebuah perjalanan yang paling mengasyikan adalah bincang-bincang. Sebuah perbincangan dengan siapa saja yang kita temui dijalan, adalah pengalaman yang membuat saya ingat akan betapa kecilnya saya dan betapa cintanya Sang Maha Kuasa kepada saya. Dalam perjalanan pula, siapapun yang menjadi teman mengobrol seakan menjadi malaikat. Mereka mengingatkan tentang hal-hal kecil atau besar, yang mungkin saya lupa atau bahkan tidak pernah tahu.

Bincang-bincang, perkara pengalaman yang tak membatasi obrolan karena usia atau asal. Perjalanan mengajarkan banyak cara-cara, kehidupan-kehidupan, dan pandangan-pandangan yang lain. Menghadirkan kesegaran karena kembali diingatkan alam bahwa ada takdir dalam sebuah pertemuan, selain takdir hidup dan mati.

Pertemuan, cerita, pengalaman, menikmati sendiri: terangkum dalam perjalanan. Perjalanan seorang diri memang mengasyikan, mungkin perjalanan dengan cara lain juga bisa mengasyikan jika ada seseorang disamping kita yang mengusap-usap kepala ketika mulai lelah dan terkantuk dalam sebuah perjalanan.

Senin, 08 Oktober 2012

Manusia dewa dan tuhannya


Biarkan tapak-tapak kecil menari diujung-ujung bumi. Merasakan setiap tekstur permukaan yang tidak sama. Ketika jejaknya disapu angin, tiap liuk-liuk langkah barunya tak kan hilang arah.

Alam adalah rumah terindah yang memberi pemaknaan sempurna pada hidup. Maka dengan menjaga keharmonisan, itu cukup. Untuk apa melangkah terlalu jauh kalau pada akhirnya akan kembali lagi pada cara yang lampau?

Bukankah cara-cara hidup hanya berputar saja... progress suatu saat akan jadi regress, dan regress bisa saja menjadi progress. Ya, sejarah memang tidak pernah berulang. Tapi esensi kejadian masih mungkin terjadi lagi jika manusia tidak pernah mempelajari sejarah-sejarahnya. Siapa yang tahu manusia salah atau benar jika benar atau salah berubah setiap waktu, berubah di setiap ruang...

***
Agama
Mencapai kebahagiaan bukan dengan menjalankan setiap perintah agama. Agama telah menjadi tuhan dan dewa-dewa baru dalam sejarah manusia. Menjalankan agama dengan ‘saklek’ tanpa melihat konteks zaman dan budaya menjadi tindakkan bodoh. Apalagi sampai bertengkar atau menjelek-jelekkan agama lain. Heh, apa kamu yakin Allah yang Maha Besar bisa disembah dengan satu cara? Apakah Allah yang Maha segalanya itu punya agama? Lantas tanyakan saja segera, “Tuhan, apa agama-Mu?”

Kamis, 04 Oktober 2012

memosting tulisan lama #1

PERUBAHAN

Hampa, kehampaan itu mengisi hari-hariku beberapa hari belakangan ini.

Mataku, mataku terus terbuka dengan segala kenyataan-kenyataan yang ada. Kenyataan tentang hidup dan kenyataan tentang dunia. Hidup dan dunia yang tidak pernah baik-baik saja. Tidak pernah baik-baik saja. Ya, dan hidup memang tak pernah baik-baik saja.

Rumit sekali ketika mengetahui bahwa hidup tidak pernah baik-baik saja. Mendobrak pola pikir orang kebanyakan yang telah terbentuk dari opresi-opresi sistem yang begitu kacau. Membuat kita terhanyut didalamnya dan sulit untuk keluar dari lingkaran ketidaktahuan, lingkaran setan. Sistem yang tertanam dan terus menjalar dalam kehidupan, terutama bagi masyarakat Indonesia. Begitu dahsyatnya efek-efek penjajahan masa feodal, kolonial, dan paham kapitalis yang berlebihan.
Masyarakat terus ditekan dan dimatikan kesadarannya dengan pemutar balikan fakta, penindasan, penganiayaan, perampasan, bahkan pembunuhan untuk tidak berfikir kritis dan hidup dalam kuasa-kuasa yang melemahkan.

Setelah membaca beberapa wacana kritis dan diskusi-diskusi dengan beberapa teman, ada sebuah perubahan pola pikir yang cukup mendalam begitu kentara. Rasanya merasa amat kerdil ketika mengetahui bahwa saya menjadi seorang penonton, penikmat, dan sekaligus korban dalam system-sistem yang sengaja dibuat untuk melemahkan pikiran saya. Seperti terpuruk sekali, bagaikan seorang pemain teater yang menjalankan naskah dramanya tanpa boleh mengekspresikan diri dengan naskah yang dibuat sedemikian rupa sehingga saya merasa tidak berdaya dan hanya bisa menjalani apa yang sudah tertulis dinaskah. Dulu saya belum menyadari hal-hal itu, tapi sekarang pikiran saya telah keluar dari lingkaran ketidakberdayaan hanya belum mampu sepenuhnya keluar dari segala system busuk yang mengikat itu. Karena sangat sulit, hanya sebagian kecil dari seluruh masyarakat yang telah sadar akan dunia yang tidak pernah baik-baik saja ini.

Perasaan terasing kerap kali muncul dalam pergaulan saya. Merasa sendiri ditnegah keramaian. Perasaan itu muncul ketika melihat pola pikir populer yang ternyata memang sudah menjadi budaya pada kaum muda bangsa ini. Saya pun juga pernah berada didalam pola pikir populer yang cukup lama hingga akhirnya tersadar betapa populernya pemikiran-pemikiran saya dulu. Ketika mendapati bahwa teman-teman saya juga berpikiran macam saya dulu yang belum sadar itu saya jadi merasa prihatin. Keprihainan saya bertambah ketika ada beberapa teman yang mungkin menganggap saya aneh dan berpikiran ekstrim, terlalu kritis. Ya Tuhan, tak habis pikir saya, baru hal kritis kecil saja sudah dilebih-lebihkan. Betapa budaya pop dan penindasan terhadap pikiran baru saya rasakan begitu berpengaruh pada pola pikir yang itu-itu saja. Saya menangkap sebuah pola pikir bentukan system tentang hidup yang singkat ini: lahir – sekolah yang bener – jangan neko-neko – rajin atau bahkan disiplin belajar agar mencapai sebuah ‘kewarasan’ – kuliah jadi mahasiswa yang mendapat nilai baik tanpa mengkritisi apa yang didapatkan sudah sebanding dengan apa yang dibayarkan – Dapat pekerjaan dengan gaji yang cukup – punya pasangan hidup – punya anak – menghidupi anaknya – dan tinggal menunggu ajal. Ah, bosan betul hidup macam itu.

Sebagai kaum elit muda, elit yang dalam artian jumlahnya tidak banyak (tidak banyak karena hanya sedikit jumlahnya dan harus mampu member pengaruh terhadap yang lainnya), kita seharusnya sadar akan dunia yang tidak baik-baik saja. Identitas mahasiswa itu membaca dan membuat perubahan. Tetapi yang saya temukan disini adalah sebuah pola pemikiran yang sama. Yang penting hidup enak dan tidak neko-neko. Kerap kali pemikiran-pemikran macam ini yang membuat saya kecewa dan merasa makin terasing. Keterasingan inilah yang cukup berpengaruh dalam hidup saya. Mungkin bisa dilihat dari factor sejarah hidup saya sebelumnya yang jarang mendapat kesulitan hidup yang berarti, kesulitan yang dialami sebatas masalah perasaan (hati), ketidakstabilan ekonomi yang tidak begitu signifikan, dan polapikir saya yang selama ini mainstream juga populer. Ketika saya menemukan realita bahwa hidup saya ternyata selama ini menggunakan kacamata kuda populer rasanya jatuh benar. Berat. Jujur saja, sangat berat karena kehidupan saya yang terdahulu dikelilingi pemikiran - pemikiran hedonisme, populer, dan mainstream. 


Ini hanya sepenggal kisah saya tentang sebuah perubahan yang amat besar dan saya menyukainya, hanya butuh waktu saja untuk beradaptasi agar saya mampu membawa perubahan....

=)

Minggu, 12 Agustus 2012

kenagan

Lalu kau paksa lagi sakit yang timbul dari kenangan-kenangan meluap keluar, deras. Mencuat-cuat seperti sinar surya subuh yang tiba-tiba terlihat begitu saja remang menerangi ufuk timur.

Sakit-sakit yang banjir tapi surut ditelan waktu, meluap lagi. Tadi malam. Malam dimana deru-deru kereta bersatu dalam malam yang berubah terang. Kesunyian telah dipecahkan, dan kenangan menjadi gelora-gelora.

Lalu ruang kamarku terlihat ada celah, dan tiba-tiba kau mengintip disitu. Pancaran mata yang ku kenal, walau sebentar dan begitu dekat. Menjelajahi pagi hingga pagi. Menunggu dan berangan-angan. Lalu kita sadar, bahwa semua hanya kenangan.


Surabaya, IAIN Sunan Ampel, 11 Agustus 2012.
Pagi dihadapan lapangan IAIN, burung gereja berlompatan diatas hijau rumputnya.

Selasa, 17 Juli 2012

Pagi ini rindu

Pagi ini aku kembali tersadar bahwa kita bukan milik siapa-siapa. Bahkan aku tak berani lagi mengatakan bahwa diriku milikku sendiri. Semua terasa begitu semu, terikat. Hari ini aku memutuskan pulang... Namun, beberapa saat setelah membaca segelintir kata, rasanya ingin sekali memendam niatku. Badanku sudah remuk dimakan sakit dan lelah, tapi sekejap aku tak ingin pulang. Hanya tak ingin saja.

Lapar tidak, haus pun tidak, mungkin hanya terlalu lelah. Sampai aku jadi ragu dengan semua. Kelelahan tak akan membuatku sekacau ini, gumamku dalam hati.

Pagi ini sepi. Terasa sunyi hanya aku yang sedang berdialog dengan pikiranku sendiri.
Rasanya kelenjar airmata ini berlebihan, tak ada apa-apa tapi dia meluap.
"Terlalu cengeng kau menghadapi sakit!" bentak pikiranku sendiri.
Sakitnya hanya di perut, di lambung, di tenggorokkan, di pinggang, di tulang belakang, di betis, di paha, di kepala, dan di hati. Berhenti sejenak dan aku mencoba menahan. Berhasil.
"Hidup memang kejam dan tak akan bisa kau perkirakan, jangan manjakan dirimu!"
Kenapa pikiranku sekeras baja? karena pada nyatanya aku tak sekuat ilalang yang diinjak berkali-kali tetap hidup dan berdiri lagi di pagi hari.

Pagi ini, aku letih dan lelah sekali. Tak akan kumanjakan dengan memejamkan mata sekarang. Merasakan sakit yang menggerogoti adalah cara menikmati rasa yang biasa-biasa saja. Nyalakan rokok sebatang dulu untuk mengusir nyamuk.
Pagi ini aku memutuskan untuk pulang... melepas rindu sebelum kubawa lagi rindu beberapa hari kedepan.
Sekarang, bersabarlah sayang... karena bersamaku kau tak akan bisa jauh-jauh dari rindu, aku pun tahu bahwa rindu itu pilu.



Akan kubawa terus rindu dalam dompetku, memotretnya di kameraku lalu kusimpan dalam tas dan sakuku. Begitu banyak rindu, aku takut tubuhku tak kuat menopangnya sendiri. Hanya berharap kau mau menopang bersamaku... Pikirlah dahulu, tentang hidupmu...

Surabaya, 18 juli 2012
IAIN ramai deru sayap nyamuk.

Kamis, 22 Maret 2012

Masih Punya Hati

Sepertinya sudah menjadi kodrat bahwa manusia punya perasaan, kecuali yang mungkin memang memiliki kelainan. Kemarin, beberapa bulan belakangan saya merasa ingin sekali tidak punya hati, tidak punya hati untuk saya sendiri.

Karena tidak mungkin mempersalahkan masalah yang datang silih berganti, walau kadang yang satu belum selesai sudah muncul yang lain, jadi yang bisa dilakukan hanyalah mempersalahkan diri sendiri. Menyalahkan orang lain terasa sia-sia, apalagi menyalahkan keadaan yang tidak mungkin dipersalahkan.

Tapi sebetulnya saya juga paham bahwa kesalahan bukan berawal dari saya. Kesalahan berawal dari hati yang bekerja lebih cepat daripada otak (beberapa pihak yang bersangkutan). Tidak jelas siapa yang memulai, seperti terjadi begitu saja. Jadi hanya bisa bilang, “Aku yang salah” teriak saya pada diri sendiri.

***
Merasa sangat bodoh dan bersalah karena telah bermain api di dekat rumah hingga api menyambar dan rumah terbakar, saya lari dan bersembunyi. Diam dan mencoba melihat pantulan wajah yang cemong karena kepulan asap hitam di permukaan air danau. Saya pastikan tidak ada yang melihat. Kemudian diam-diam pula tangan yang melepuh saya celupkan kedalam air. Perih dan dingin. Sakit, aku menangis. Tapi luka bakarnya memang tak lekas hilang, butuh waktu untuk menyembuhkannya. Saya menyesal. Sudah hukumnya bahwa penyesalan datang belakangan. Dan akhirnya saya menjadi lebih memahami secuil kejadian dalam hidup, yakni penyesalan.

Sekarang saya tahu bahwa saya melakukan kesalahan. Melihat pantulan diri yang tak karuan karena kesalahan sendiri. Dari jauh terdengar suara seseorang berteriak, “Sayang, kamu dimana? Pulanglah.” Beberapa detik kemudian terdengar lagi teriakan, “Pulanglah… Kembalilah bersamaku…” terdengar suara itu agak terisak. Saya tahu betul itu suara siapa. Saya tetap diam dan mencoba mendengarkan. Ah, tak hanya terisak, ia menangis sejadi-jadinya. Nafas yang sesenggukan dan suara yang patah-patah pula rintihan yang lirih terdengar agak samar dalam gema.
***


Hal tersulit dari kesalahan bukanlah mengakuinya atau minta maaf atau memaafkan orang lain, tetapi memaafkan diri sendiri. Rasa bersalah itu seperti menghantui, semakin dipendam semakin jadi luka.

Seandainya saya tidak punya hati, pasti tidak akan sesulit ini menghadapi hari-hari kemarin karena aku tidak perlu merasa bersalah dan merasa kehilangan. Tapi nyatanya, saya manusia yang punya hati. Masalah dihati selalu menganggu jika tidak diatasi. Menggangu pikiran, mengganggu kesehatan, dan mengganggu orang-orang di sekitar.

Dan di’rumah’ aku bisa meminjam bahu untuk menangis dan mengeluarkan semua ketakutanku. Tidak perlu dipendam sendiri, karena sakit hati harus diobati.

“Aku pulang, sayang.” hanya itu yang bisa kuucapkan.

Minggu, 05 Februari 2012

Ketegaran hati

Lalu salah ketika aku menangis?
Sendiri di sudut ruang
Atau tengkurap diatas kasurku yang tak lagi empuk
Bersama malam yang gerimis akhir-akhir ini

Banyak kuping yg bisa dan mungkin mau mendengar
Banyak juga mulut yang mau menasehati

Maaf kali ini aku mau menyimpan sendiri
Ku simpan resah dan takut dalam dompetku
Pergi bersama sepi dan sunyi
Karena kadang mereka sahabat terbaik
Ketika yang kubutuhkan hanya ketegaran hati

Siapa yang tahu benar akan hidupku
Aku sendiri kadang ragu
Ketidak pastian hanya berobat satu
Hanya ketegaran hati

Aku hanya sedang butuh sendiri
Supaya bisa jadi bantal tempat ibuku menangis
Menjadi kopi yang bisa menenangkan ayah
Menjadi sendal gunung adik laki-lakiku
membantunya agar tidak mengikuti emosi
Menjadi buku Diary adik perempuanku
tempat ia mencurahkan isi hati

Sekarang aku hanya butuh ketegaran hati
Supaya aku tidak terus menangis
Bersama sepi dan sunyi
Ketegran hati, kuatkan aku

Senin, 29 November 2010

Satan-Satan Zaman

Untuk satan-satan zaman
Yang kemarin-kemarin kehilangan pegangan
Yang semalam kembali mencoba lagi
Yang sekarang harus lebih berani....

Aku sangat senang dengan hari kemarin ketika semuanya terbuka dan mau mengungkapkan apa yang dirasakan. Awalnya aku sangat takut untuk memulai semua karena aku takut hanya aku yang merasa "gelisah" dan "tidak nyaman" dengan situasi macam beberapa bulan kebelakang. Ternyata tidak.... aku tidak sendirian.... aku sangat bersyukur karena kalian tetap satan-satan zaman yang masih memikirkan zaman....

=)


Kurangnya wadah untuk saling berbagi, memberi, dan berdiskusi memang menjadi masalah besar untuk aku, kamu, kalian.... dan KITA....

Mari kembali membangun "atmosfer" yang kondusif untuk kembali membaca, berdiskusi, beraksi, dan memberi...

Satan-satan zaman
Tak masalah ketinggalan zaman
Satan-satan zaman
Tak boleh gentar melawan kebiadaban....


Yogyakarta, Senin malam yang dingin, tanggal 29 Bulan sabit yang tertutup awan.

Minggu, 02 Mei 2010

Menjauh


Lagi-lagi hampa sempat mampir cukup lama dalam waktu-waktu belakangan. Dan kali ini datang bersamaan dalam hal yang membahagiakan, membuat gejolak hati bergeliat dalam ruang hampa. Saya tidak nyaman dengan kebahagiaan yang kalian sebut bahagia, bahagia macam ini yang membuat saya makin terasing dalam liarnya pikiran.


Menjauh. Ya, mungkin sementara ini saya akan menjauh saja pelan-pelan menghilang dari hidup nyata kalian. Bukan masalah untuk saya untuk tidak terjadi komunikasi langsung dengan kalian, tapi tak bisa dipungkiri juga jika rasa rindu akan memori – memori yang pernah dilalui bersama dalam suka duka membuat sakit dan perih dihati. Tapi melihat kalian yang begitu tidak pedulinya dengan kuasa-kuasa besar yang mempengaruhi kalian, aku menjadi merasa terasing.
Betapa sulitnya bagiku untuk bisa berdialog dari hati ke hati dan dari pikiran-pikiran yang bisa membawa perubahan bagi sesama. Aku memilih untuk diam karena aku tidak ingin kalian menganggap aku aneh atau freak seperti yang pernah kalian lontarkan sebelumnya. Apakah dengan membaca dan mendialogkan hal-hal serius itu membuat kalian tidak nyaman. Tapi kita sudah mahasiswa kawan, sadarlah betapa orang-orang diluar sana yang mengharapakan kita sebagai kaum elit terdidik untuk berjuang atas nama keadilan, kebenaran, demi kesejahteraan. Jika kalian memang belum tahu aku ingin sekali memberi dan berbagi pengalaman juga berdiskusi bersama tentang kehidupan.


Intelektual bukanlah hal yang lagi patut disindir dan dimarjinalkan dari kehidupan mahasiswa. Sudah sepatutnya kita berbicara tentang bagaimana mengapa dan langkah apa yang harus dibuat untuk kedepannya. Apakah tujuan kalian kuliah hanya sebatas agar bisa mencari pekerjaan yang layak dengan penghasilan tinggi, membuat orang tua bangga, menghidupi istri – anak, dan mempersiapkan hidup anak kalian agar bisa menjadi seperti yang kau inginkan dengan pola yang sama? Lalu dengan siapa lagi mereka yang terpinggirkan, miskin, menderita, tertekan dalam ketidaksejahteraan berharap? Dimana letak hati nurani kalian yang bisa menikmati hidup dengan fasilitas luar biasa? Lalu apa tujuan hidup kalian dan bagaimana kalian merealisasikannya ditengah masyarakat yang dinamis sementara kalian tidak tertarik, bahkan tidak menyukai ilmu sosial. Padahal kalian juga hidup ditengah masyarakat sosial.


Tentang kemiskinan dan pembodohan, maaf teman, aku ingin memfokuskan perhatianku kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan. Mereka tidak punya siapa-siapa lagi yang dapat dipercaya untuk dapat membantu mereka keluar dari ketertekanan kecuali Tuhan, dan kita kaum muda bangsa ini. Pemerintah sudah tidak bisa lagi dipegang janjinya karena janji mereka hanya janji politik belaka. Tapi berserah pada Tuhan jug bukan semata-mata pasrah, tetap harus ada usaha, agar agama tidak menjadi candu. Lalu jika bukan pada kaum elit politik dan ekonomi, kepada siapa mereka bersandar atas segala harapan kemerdekaan? Kepada kita, kepada kami, kepada elit pendidikan.


Menjauh, aku akan semakin menjauh ketika mereka sungguh tidak dapat menerima kenyataan, bahwa hidup itu mudah, bahwa hidup tidak rumit, bahwa hidup jangan dibuat susah. Kenyatannya hidup memang tidak mudah, hidup memang susah, tapi kita masih memiliki modal untuk membuat perubahan dengan pendidikan yang kita tempuh dari bangku taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Maaf kawan, aku akan semakin menjauh jika kita tidak lagi sejalan dan setujuan… Aku memiliki keyakinan kuat akan jalan hidupku, dan mungkin kau dengan hidupmu. Dan aku tidak sendiri kawan, aku punya banyak teman untuk mengubah dunia yang semakin poranda jika pemikiran-pemikirannya berorientasi pada kemapanan dan kemakmuran diri sendiri. Aku sudah mantap dengan tjuan hidupku. Jadi untuk segala kehedonan dan kekonsumtifan kalian, aku ingin menyendiri dahulu saja.

Yogyakarta, Februari 2010