Tampilkan postingan dengan label hasil berfikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hasil berfikir. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Mei 2014

Untuk Kawan-kawan Seperjuangan

Pada akhirnya kita harus menerima takdir untuk kembali pada jalan masing-masing. Kembali ke kota masing-masing kita harus menerapkan ilmu kita, atau merantau ke tampat lain untuk menyambung hidup. Teori-teori yang kita baca serta diskusikan itu hanya akan menjadi wacana tanpa ada aksi. Diskusi-diskusi kita akan menguap saja tanpa ada aksi. Perlulah juga diingat bahwa aksi tanpa teori dan diskusi bisa menjadi sebuah penyesalan karena lupa atau tidak tahu akan salah.

Ah, kawan... begitu banyak selama perkuliahan ini yang ingin sekali kuceritakan. Dibukukan hingga berhalaman-halaman, tapi itu baru angan. Dari segala logika yang ilmiah hingga menyentuh ketuhanan bahkan romantika yang sering kau anggap remeh padahal itu sangat mempengaruhi mood kalian itu sebuah yang sangat berharga.

Mungkin aku mendahului kalian karena harus segera terjun dalam dunia kerja sementara proses perkuliahan. Aku anggap itu takdir pahit yang mengesankan. Pada saat kita turun langsung dan terikat oleh sistem, disitulah mentalmu diuji. Perdebatan teori dan segala wacana di kepala ternyata tak berarti tanpa ada ada keberanian untuk menentang ketidak-benaran yang terjadi dalam sistem perkantoran kita masing-masing.

Feodalisme, Patriarki, Senioritas, Kolusi, Korupsi, Nepotisme, itulah birokrasi, terbungkus profesionalisme yang omong kosong. At least, bagi saya profesionalisme adalah ketika kau bisa menyuarakan yang salah dan berani untuk memperjuangkan nilai yang kau anggap benar. Biasanya orang akan takut, takut kehilangan pekerjaannya, takut kenyamanan di tempat kerja terusik, takut difitnah dan digossipkan yang tidak-tidak oleh rekan kerjamu sendiri. Untuk apa takut jika kita memang benar yakin memperjuangkan nilai yang kita anggap benar?

Aku justru lebih takut kehilangan rekan seperjuanganku yang pernah ku kenal. Aku takut kalian tidak berani untuk memperjuangkan kebenaran kalian. Aku takut lama-lama di dalam sistem yang membuat kalian nyaman itu nurani kalian mati. Ketakutan terbesarku adalah kalian tahu yang benar tapi kalian bungkam dan pura-pura tidak tahu.

Perjalanan selama ini yang kulakukan mengajariku untuk selalu berani. Dengan rasa takutku ini akupun harus bersiap-siap untuk berani kecewa karena tidak semua orang pintar itu nuraninya tetap hidup. Aku hanya mengingatkan, dan kuharap kita semua bisa saling menguatkan. Jika memang orang-orang tua berharap pada raga kita, jangan kita sia-siakan harapan-harapan itu, untuk menjadi generasi pembaharu bangsa. Karena jika kita hanya melanggengkan sistem, kita tidaklah berbuat apa-apa. Hanya hidup untuk menunggu mati saja.

Kamis, 26 Desember 2013

Batas Titik Dosa


Setiap benda, hidup ataupun mati, memiliki batas... batas-batas itu sekarang mencapai titik kejenuhan, titik kehancuran, titik kepengkuan, titik-titik itu menjadi dosa... dosa besar ketika kita tidak memenuhi tanggung jawab karena sudah terlanjur tercemplung kedalamnya, dan dosa besar pada keluarga yang telah mempercayai kita untuk menjadi orang berguna dalam masyarakat selepas kuliah nanti.

Awalnya aku memang tidak tahu bahwa semua akan menjadi serumit ini. Kesadaran. Ini bisa menjadi kutukan bisa juga menjadi anugerah. Kali ini sebut saja kesadaran membawaku pada keduanya... Dapat mempelajari banyak hal terutama kehidupan dan mendapat tekanan dari berbagai pihak. Aku sungguh tidak tahu bahwa akan berujung runyam, seperti sekarang ini.

Keyakinan telah membawaku untuk mengamini bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia di muka bumi. Setiap usaha akan membawa kita pada sebuah masa depan yang berasal dari pilihan-pilihan kita. Pilihan-pilihan itu membentuk sebuah jalan dan jangan salahkan keadaan atau yang lainnya. Karena, masa depanmu, kamu sendiri yang membuatnya kecuali tentang rejeki, jodoh, kelahiran, dan kematian... hanya semesta yang tahu.

Sekarang tanpa rokok dan kopi harus kuhajar sendirian perasaan-perasaanku. Membunuh ego dan angan tentang cita-cita. Ingin mengutuk kodratku sebagai kelas menengah sok berjuang untuk hal yang lebih baik, tapi yang hidupnya dirundung cemas. Jika benar aku menyalahkan, maka ini  akan menjadi sebuah kesalahan besar. Ingin membuat sebuah perbaikan, tetapi yg terjadi malah meneruskan dosa leluhur/senior dan membuat dosa lainnya sehingga mengecewakan banyak insan. Tak sepantasnya kita menyalahkan keadaan atau takdir... Solusinya hanya satu, menjalani dengan ikhlas. Lalu semua menjadi sepi, seakan terdiam... hanya terdengar sayup tuduhan dan tudingan.

Walaupun waktu banyak yang terbuang, tenaga terkuras, tabungan sudah habis bahkan sampai ngutang teman untuk mengunjungi kota-kota. Tak lupa, beberpa diantaranya mengorbankan hati hingga hancur berkeping-keping, di sumpah serapahi orang lain, di tuntut sana-sini, di maki orang tua... Hancur-hancuran. Sehancur-hancurnya. Bahkan kepingan terkecil itu lebih kecil dari debu, hingga sulit disapu. Itulah kenyataannya.

Ku akui, sempat aku lupa daratan. Melupakan sebentar tanggung jawabku atas sebuah mahakarya pertanggungan kuliah selama  4 tahun dan hanya sibuk bekerja pun berorganisasi. Salah, itu adalah kesalahanku, jangan ditiru. Aku jug pernah melupakan orang-orang terdekat dan terbaik dalam hidupku, yaitu keluargaku, keluarga biologis dan keluarga kulturalku. Aku telah menyakiti mereka atas keputusan-keputusanku. Sepertinya tak hanya aku, orang lain yang berjuang di tataran nasional dan kota pasti juga sudah banyak mengorbankan hal-hal penting dalam hidup mereka untuk tujuan yang mulia... mencerdaskan dan menyadarkan agar tetap saling bertautan.

Aku tetap sangat salut dengan saudara-saudaraku seperjuangan yang masih rela menduduki posisi itu dengan ikhlas dan dengan rendah hati. Bahwasannya, masih ada pemimpin yang sungguh-sungguh melayani, pemimpin yang rela mengorbankan semua yg dia miliki, pemimpin yang akan menjadi paling terakhir dalam barisan, pemimpin yang merakyat dan duduk ditengah-tengah kerumunan bersama rakyatnya... Kalian telah melampaui batas kemampuan diri. Masih selalu ingat dengan bantuan doa orang-orang terdekat yang kita sakiti, lalu berjanji untuk menebusnya setelah tugas-tugas yang telah disepakati bersama selesai. Aku sangat menghargai usaha dan kerja keras kalian yang penuh ketulusan... biarlah penebusan dosa-dosa kita pada orang-orang tersayang diterima oleh semesta sehingga berujung indah kawan.
---

                Dengan mudah, mungkin yang lain bisa berkata. Tapi kata yang terucap hanya sebatas permukaan karena mereka tidak penah tahu berkecimpung di dalamnya. Mengumpat memang mudah, yang sulit adalah bertahan dan tetap mau memperbaiki kesalahan yang ada, dan memaklumi bahwa tidak ada sesuatu yg sempurna. Kuatlah dan sabarkanlah hatimu kawan... tidak ada sesuatu yang sia-sia. Biarkan saja.

Memang, bisa saja setiap orang menghakimi orang-orang yang tetap bertahan tersebut sebagai orang bodoh, pengku, bebal, dan tidak berotak karena mereka telah mengorbankan masa depannya. Sesungguhnya mereka sudah sadar sepenuhnya akan ketidak berasan yang terjadi... mereka semua ingin memperbaikinya dan merelakan waktu mereka habis bersama sebagian dari masa depan mereka. Mereka banyak berkorban dan mereka tetap rendah hati. Kalau memang segala usaha akhirnya juga tetap sama saja... berarti memang ada yang tidak direstui dari perjuangan tanpa tanda jasa ini. Zaman tidak merestuinya, dan mahasiswa-mahasiswa sekarang menjadi tak beradab, hanya mengamini dirinya sebagai calon pekerja saja.

Untuk para pejuang di Lembaga terkecilnya masing-masing, di kepengurusan kotanya masing-masing, di tataran yang lebih tinggi... kita bersaudara dan bertautan bukan karena kebutuhan saja, tetapi karena visi-misi kita untuk menjaga sedikit peradaban (minimal) di lingkaran-lingkaran terkecil saja. Beberapa minggu lagi... Mari bebenah saudara...

Jangan biarkan kesakitan-kesakitan yang kita rasakan menjadi dosa turunan bagi generasi selanjutnya. Biarkan batas-batas itu ada... jangan sampai membuat titik-titik kejenuhan dan berujung pada acuh. Jalani saja yang sepatutnya kita pertanggung jawabkan dan tebuslah dosa kalian satu persatu. Semoga semesta berpihak pada perjuangan kita yang nampak sia-sia dimata orang.


Jakarta, 26 Desember 2013
Terseling tawa dan air mata, untuk para pejuang tanpa tanda jasa
Kalian yang tahu rasanya, kalian kuat.

Gerarda Agriveta
12.45 WIB

Senin, 08 Oktober 2012

Manusia dewa dan tuhannya


Biarkan tapak-tapak kecil menari diujung-ujung bumi. Merasakan setiap tekstur permukaan yang tidak sama. Ketika jejaknya disapu angin, tiap liuk-liuk langkah barunya tak kan hilang arah.

Alam adalah rumah terindah yang memberi pemaknaan sempurna pada hidup. Maka dengan menjaga keharmonisan, itu cukup. Untuk apa melangkah terlalu jauh kalau pada akhirnya akan kembali lagi pada cara yang lampau?

Bukankah cara-cara hidup hanya berputar saja... progress suatu saat akan jadi regress, dan regress bisa saja menjadi progress. Ya, sejarah memang tidak pernah berulang. Tapi esensi kejadian masih mungkin terjadi lagi jika manusia tidak pernah mempelajari sejarah-sejarahnya. Siapa yang tahu manusia salah atau benar jika benar atau salah berubah setiap waktu, berubah di setiap ruang...

***
Agama
Mencapai kebahagiaan bukan dengan menjalankan setiap perintah agama. Agama telah menjadi tuhan dan dewa-dewa baru dalam sejarah manusia. Menjalankan agama dengan ‘saklek’ tanpa melihat konteks zaman dan budaya menjadi tindakkan bodoh. Apalagi sampai bertengkar atau menjelek-jelekkan agama lain. Heh, apa kamu yakin Allah yang Maha Besar bisa disembah dengan satu cara? Apakah Allah yang Maha segalanya itu punya agama? Lantas tanyakan saja segera, “Tuhan, apa agama-Mu?”

Kamis, 04 Oktober 2012

memosting tulisan lama #1

PERUBAHAN

Hampa, kehampaan itu mengisi hari-hariku beberapa hari belakangan ini.

Mataku, mataku terus terbuka dengan segala kenyataan-kenyataan yang ada. Kenyataan tentang hidup dan kenyataan tentang dunia. Hidup dan dunia yang tidak pernah baik-baik saja. Tidak pernah baik-baik saja. Ya, dan hidup memang tak pernah baik-baik saja.

Rumit sekali ketika mengetahui bahwa hidup tidak pernah baik-baik saja. Mendobrak pola pikir orang kebanyakan yang telah terbentuk dari opresi-opresi sistem yang begitu kacau. Membuat kita terhanyut didalamnya dan sulit untuk keluar dari lingkaran ketidaktahuan, lingkaran setan. Sistem yang tertanam dan terus menjalar dalam kehidupan, terutama bagi masyarakat Indonesia. Begitu dahsyatnya efek-efek penjajahan masa feodal, kolonial, dan paham kapitalis yang berlebihan.
Masyarakat terus ditekan dan dimatikan kesadarannya dengan pemutar balikan fakta, penindasan, penganiayaan, perampasan, bahkan pembunuhan untuk tidak berfikir kritis dan hidup dalam kuasa-kuasa yang melemahkan.

Setelah membaca beberapa wacana kritis dan diskusi-diskusi dengan beberapa teman, ada sebuah perubahan pola pikir yang cukup mendalam begitu kentara. Rasanya merasa amat kerdil ketika mengetahui bahwa saya menjadi seorang penonton, penikmat, dan sekaligus korban dalam system-sistem yang sengaja dibuat untuk melemahkan pikiran saya. Seperti terpuruk sekali, bagaikan seorang pemain teater yang menjalankan naskah dramanya tanpa boleh mengekspresikan diri dengan naskah yang dibuat sedemikian rupa sehingga saya merasa tidak berdaya dan hanya bisa menjalani apa yang sudah tertulis dinaskah. Dulu saya belum menyadari hal-hal itu, tapi sekarang pikiran saya telah keluar dari lingkaran ketidakberdayaan hanya belum mampu sepenuhnya keluar dari segala system busuk yang mengikat itu. Karena sangat sulit, hanya sebagian kecil dari seluruh masyarakat yang telah sadar akan dunia yang tidak pernah baik-baik saja ini.

Perasaan terasing kerap kali muncul dalam pergaulan saya. Merasa sendiri ditnegah keramaian. Perasaan itu muncul ketika melihat pola pikir populer yang ternyata memang sudah menjadi budaya pada kaum muda bangsa ini. Saya pun juga pernah berada didalam pola pikir populer yang cukup lama hingga akhirnya tersadar betapa populernya pemikiran-pemikiran saya dulu. Ketika mendapati bahwa teman-teman saya juga berpikiran macam saya dulu yang belum sadar itu saya jadi merasa prihatin. Keprihainan saya bertambah ketika ada beberapa teman yang mungkin menganggap saya aneh dan berpikiran ekstrim, terlalu kritis. Ya Tuhan, tak habis pikir saya, baru hal kritis kecil saja sudah dilebih-lebihkan. Betapa budaya pop dan penindasan terhadap pikiran baru saya rasakan begitu berpengaruh pada pola pikir yang itu-itu saja. Saya menangkap sebuah pola pikir bentukan system tentang hidup yang singkat ini: lahir – sekolah yang bener – jangan neko-neko – rajin atau bahkan disiplin belajar agar mencapai sebuah ‘kewarasan’ – kuliah jadi mahasiswa yang mendapat nilai baik tanpa mengkritisi apa yang didapatkan sudah sebanding dengan apa yang dibayarkan – Dapat pekerjaan dengan gaji yang cukup – punya pasangan hidup – punya anak – menghidupi anaknya – dan tinggal menunggu ajal. Ah, bosan betul hidup macam itu.

Sebagai kaum elit muda, elit yang dalam artian jumlahnya tidak banyak (tidak banyak karena hanya sedikit jumlahnya dan harus mampu member pengaruh terhadap yang lainnya), kita seharusnya sadar akan dunia yang tidak baik-baik saja. Identitas mahasiswa itu membaca dan membuat perubahan. Tetapi yang saya temukan disini adalah sebuah pola pemikiran yang sama. Yang penting hidup enak dan tidak neko-neko. Kerap kali pemikiran-pemikran macam ini yang membuat saya kecewa dan merasa makin terasing. Keterasingan inilah yang cukup berpengaruh dalam hidup saya. Mungkin bisa dilihat dari factor sejarah hidup saya sebelumnya yang jarang mendapat kesulitan hidup yang berarti, kesulitan yang dialami sebatas masalah perasaan (hati), ketidakstabilan ekonomi yang tidak begitu signifikan, dan polapikir saya yang selama ini mainstream juga populer. Ketika saya menemukan realita bahwa hidup saya ternyata selama ini menggunakan kacamata kuda populer rasanya jatuh benar. Berat. Jujur saja, sangat berat karena kehidupan saya yang terdahulu dikelilingi pemikiran - pemikiran hedonisme, populer, dan mainstream. 


Ini hanya sepenggal kisah saya tentang sebuah perubahan yang amat besar dan saya menyukainya, hanya butuh waktu saja untuk beradaptasi agar saya mampu membawa perubahan....

=)

Kamis, 16 Agustus 2012

Cinta Indonesia?


Ramai-ramai orang mengucapkan aku cinta Indonesia di jejaring sosial. Apa mereka benar-benar cinta? Kemerdekaan macam apa yang mereka rasakan ketika saudara sebangsa masih berjuang mati-matian untuk mendapatkan kemerdekaan?
***

Pagi ini, aku bahkan baru ingat bahwa ini tanggal 17 Agustus 2012. Tanggalan merah. Tanggal yang saat ini dinanti para pekerja untuk menikmati istirahat dan bersantai bersama keluarganya. Tanggal yang sekarang ini ditunggu anak-anak sekolah untuk bermain-main di lomba yang menjanjikan hadiah-hadiah sederhana sampai yang mewah… Detik-detik dimana degup jantung yang berdegup cepat dan aliran darah terasa begitu cepat pada pemuda-pemudi Indonesia 67 tahun silam memnanti kata ‘Merdeka’.
Kemerdekaan. Apa yang merdeka? Bahkan kawan saya sendiri yang berusia 21 tahun juga berkata, “aku bahkan tidak punya posisi tawar dalam hidupku untuk mengambil keputusan sendiri karena semuanya sudah diatur oleh orang tua.”  Kawan lain dari fakultas akuntansi berkata, “Secara ekonomi, kebijakan-kebijakan kita masih sangat tergantung dengan IMF, inflasi nilai mata uang masih perlu supaya kita tidak di embargo.” Petani di Kebumen masih berusaha berjuang melawan kekerasan aparat yang MENGANCAM keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Petani Kulon Progo masih berjuang melawan kekerasan aparat serta masuknya modal asing yang akan mengambil lahan hidup mereka, masih terpajang tulisan “Bertani atau Mati!”. Seruan yang pernah diteriakkan pendahulu bangsa kita juga serupa walau tak sama “Merdeka atau Mati!”… Seruan itu… seruan itu… semata tak terdengar lagi oleh anak-anak muda yang terlarut budaya barat sampai lupa budaya timur sendiri. Seperti tak digubris oleh orang tua-orang tua yang masih bersujud menyembah-nyembah ilmu yang mereka dapatkan dari barat sampai lupa ilmu dari timur sendiri yang luar biasa dicari orang barat.

Selasa, 24 Juli 2012

Kuatlah, Kuat


Kuatlah kuat. Kali ini aku harus berkata, "air mata hanya untuk yang lemah dan kalah dengan keadaan". Pelan-pelan pasti berlalu. Pelan-pelan... dan semua pasti akan berlalu.




Hidup yang tak pernah luput dari masalah ini semakin hari terasa semakin keruh. Keruh sepekat kali ciliwung yang airnya hitam dan menyengat indera penciuman. Sebenarnya bisa saja kulakukan segala cara dan menghalalkannya, tapi kutepis cepat-cepat. Sisi gelap dan terangku bergelut sejenak dalam ruang-ruang penat di kepalaku. Yah, tak bisa dipungkiri bahwa manusia pasti punya pemikiran jahat sekecil apapun, tinggal hati nurani dan logika yang bisa menangkisnya.

Terang mencoba berdamai dengan gelap, ku kerahkan setiap sudut logika diotak, setiap kekuatan yang menjadi bulir keringat dan letihku usai bekerja, setiap ruang perasaan di hatiku melihat perjuangan para tukang becak, ibu-ibu yang berjualan dipasar, orang yang sakit... mereka yang berjuang demi hidup mereka walau dalam kesusahan yang melampaui apa yang kuhadapi saat ini.

Senin, 18 Juni 2012

Keluarga


Keluarga, ia tak terbatas ikatan darah, melainkan kedekatan emosional, intelektual, kultural, dan bisa berawal dari hal-hal struktural.  Keluarga adalah orang tua, sanak saudara, teman terdekat, teman seperjuangan, teman satu daerah, tempat individu merasa nyaman untuk berbagi kegelisahan dan belajar untuk saling mengerti stu sama lain.

Tak lepas dari romantisme kedekatan keluarga, manusia juga perlu menyadari bahwa orang yang terdekat dan sering berinteraksi, berdinamika bersama, adalah orang yang paling rentan untuk disakiti. “People who love you the most, are the people who hurt you the most”. Pasti ada sakit hati dalam kedekatan dan intensitas pertemuan yang sering, tapi disitulah manusia yang egois belajar menjadi manusia yang sosial, belajar mengerti satu sama lain.

Manusia tak bisa memungkiri bahwa seorang individu pasti akan membutuhkan individu lainnya. Maka, rasa sakit menjadi sebuah pembelajaran untuk bisa menerima perbedaan tiap-tiap individu. Latar belakang seseorang adalah pijakan seorang individu dalam menghidupi hari-harinya. Satu lau yang perlu disadari, setiap individu punya latar belakang yang berbeda sejak ia lahir dan tumbuh, berkembang.

Perbedaan ini harus dimengerti, entah bagaimana caranya, mungkin dengan bercerita, mngkin dengan bertengkar, mungkin dengan sakit hati, mungkin dengan mendengarkan… semua mungkin. Semua proses tersebut pasti akan terjadi dalam keluarga. Tidak ada kekeluargaan tanpa ada konflik di dalamnya. Bagai karya sastra yang memiliki awal dan akhir, ditengah-tengahnya ada konflik dan klimaks. Ya, semua orang akan mengalami fase-fase serupa dengan pengalaman yang berbeda, dan akhir pada fase tersebut adalah ketiadaan, hingga seorang individu itu memejamkan mata selama-lamaya, menghembuskan nafas terakhirnya.
***

Berbeda antara keluarga biologis, keluarga karena kedekatan emosional, dan keluarga ideologis.

Senin, 14 Mei 2012

Romantisme

Kelahiran aliran romanitsme. Adalah sebuah respon atas revolusi industri yang terjadi di Prancis dan kemudian berdampak di Ingris. Romantisme tidak hanya dapat dilihat melalui literatur, tetapi juga berdampak pada filosofi, seni, religi, dan politik. Inti dari romantisme terletak pada imaginasi dan emosi daripada rasionalitas.

Gerakan ini sangat tampak dalam seni dan karya sastra pada akhit abad 18 dan awal abad 19. Era ini juga disebut sebagai “Poetry ages”, zaman puitis.

Tak lepas dari revolusi industri, romantisme, tanggapan masyarakat atas Revolusi Prancis, menjadi latar belakang perubahan pola pikir masyarakat yang drastis. Masyarakat Inggris yang awalnya berbasis masyarakat tani menjadi masyarakat industri modern. Hal ini jelas berpengaruh pada pola kehidupan masyarakatnya. Kekuasaan dan kekayaan awalnya berpusat pada kepemilikan tanah menjadi kepada penguasaan kapital (modal usaha) dan jumlah pekerja yang bekerja pada industri tertentu.

Kemudian hal tersebut mempolarisasi masyarakat menjadi dua kelas ekonomi yaitu borjuis dan proletar, pemilik modal dan pekerja, kaya dan miskin. Kelas pekerja dalam dunia industri harus bekerja lebih keras dibanding pemilik modal, sedangkan upah yang diperoleh kelas pekerja sangat minim. Bandingkan dengan pemilik modal yang mengambil keuntungan lebih dari hasil produksi yang dihasilkan para pekerja, tanpa perlu bekerja sekeras kelas pekerja, modal berikut dengan keuntungannya akan masuk ke kantongnya.

Seperti dijelaskan sebelumnya, hal tersebut menimbulkan kesenjangan sosial. Masyarakat kelas pekerja menjadi teralienasi (dari kata dasar alien = tidak mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Karena tidak memiliki waktu untuk merefleksikan diri, beristirahat, dan berlibur. Alasannya jelas, terlalu banyak bekerja dan hidup dengan rutinitas). Singkatnya, terasing. Terasing dengan dirinya sendiri dan identitas diri. Masyarakat yang terikat dalam sistem yang menekan inilah yang menimbulkan adanya keinginan untuk mengeksplorasi diri dan berekspresi.

Penderitaan yang dirasakan masyarakat kelas pekerja, sebut saja yang miskin dalam sistem ini mengekspresikan kemarahan, kegelisahan, kelelahan, daya imajinasi, dan seluruh perasaan mereka dengan karya-karya. Pada zaman tersebut, mereka tidak menyebut dirinya romantis tetapi “the spontaneous overflow of powerful feelings” (William Wordsworth). Mereka adalah orang-orang yang muak dengan dunia industri.

Karya-karya yang dihasilakan kurang lebih bertemakan tentang:
1.       Alam: manusia memiliki relasi yang sangat erat dengan alam, Eksplorasi keindahan alam,
2.       Imaginasikehidupan yang lebih baik: bukan pemikiran yang kritis tapi keinginan-keinginan sederhana untuk lepas dari tekanan dunia industri.
3.       Mistik/ Gothic: hal-hal supranatural, legenda, dll
4.       Penderitaan tiada akhir: dampak revolusi industrià polusi/ pencemaran alam, eksploitasi tenaga manusia dan sumberdaya alam, pelanggaran nilai-nilai moral.

(hasil berfikir ulang mata kuliah History of English Literature)

Sabtu, 27 November 2010

Sekilas Tentang Pertemanan di Mata Saya Sekarang

Sebuah pertemanan tanpa arah terkadang hanya menimbulkan konflik ketika anda sudah memilih jalan anda sendiri. Ya, ketika teman hanya sebagai tempat sampah ketika kita butuh pelukkan saat menangis, teman curhat saat ada masalah, dan teman jalan-jalan untuk pergi sekedar bersenang-senang tanpa ada tujuan mau dibawa kemana hidup kita.
***

Saya ingin mendedikasikan diri saya untuk membantu sesama yang termarjinalkan. Menegakan keadilan dengan semampu saya, membantu mereka mendapatkan hak-hak mereka. Jika saya mampu membuat tulisan untuk menyadarkan masyarakat bahwa keadilan harus diperjuangkan karena tidak akan datang dengan sendirinya, saya akan berusaha menulisnya. Jika tenaga saya dibutuhkan untuk membantu sesama yang terkena musibah, saya akan kerahkan tenaga saya untuk membantu mereka. Jika mereka butuh orang yang mampu membantu mereka untuk bertahan hidup, saya akan belajar dan berusaha membantu mereka. Terlalu muluk memang untuk mencapai semua itu di sisa umur saya.

Saya sudah menentukan arah, saya sudah tahu aku ingin berbuat apa. Saya tahu waktu saya di dunia tidak lama untuk mencapai impian terbesarku. Saya sudah menetapkan tidak mau membuang terlalu banyak waktu. Saya pun sadar, saya adalah seorang manusia yang masih butuh refreshing, penghiburan, dikuatkan, cinta, dan berdoa. Saya masih suka dan cukup mengalokasikan waktu untuk berlibur dan bersenda gurau dengan teman-teman. Saya masih butuh dikuatkan oleh orang lain ketika terjatuh dan goyah, begitu pula sebaliknya. Untuk cinta, saya sudah memberikan hati saya kepada seorang kekasih. Walau bukan pendoa yang baik, rajin, dan taat, saya masih suka ‘berkomunikasi’ dengan Sang Pencipta yang disebut degan segala nama.

Senin, 02 Agustus 2010

Pendidikan yang Mendidik


Oleh: Gerarda Agriveta Chrisiadyti



Dalam deklarasi Hak-Hak Asasi Manusia artikel 26 (1) tahun 1948 tertulis “ Setiap orang berhak atas pendidikan”. Kutipan di atas jelas menunjukan bahwa pendidikan sangatlah penting dan utama bagi manusia. Mengapa pendidikan jadi sangat penting dan utama? Jawabannya, karena pada hakekatnya pendidikan bertujuan membawa tiap individu masyarakat pada kesadaran akan realitas manusia, pengenalan akan diri sendiri, dan sekitarnya. Pendidikan sendiri berarti sebuah proses pelatihan dan pengajaran yang membentuk pikiran dan karakter. Proses yang membantu pembentukan manusia dewasa dan matang. Manusia yang mampu berfikir secara bebas, kreatif, tidak egois, serta dapat mempertanggungjawabkan segala perbuatannya dengan berbagai pertimbangan sosial.


Manusia, yang merupakan peserta didik, terbatas secara fisik dan tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lainnya. Bayi, anak manusia, tidak bisa bertahan hidup bahkan dalam waktu beberapa jam saja tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan anak ayam yang dalam waktu beberapa jam saja sudah mampu mematuk di tanah untuk mendapatkan makanannya sendiri. Begitulah yang diungkapkan oleh Ignas Kleden. Keterbatasan fisiknya membuat manusia harus dilatih dan dididik. Tidak hanya dilatih untuk bertahan hidup, manusia juga harus dididik untuk membentuk kematangan pribadi, fisik, dan emosional.


***


Menurut Y. B. Mangun Wijaya, pendidikan di Indonesia awalnya diselenggarakan oleh kolektifitas dusun/suku secara spontan, melalui adat istiadat sebagai media sosialisasinya. Selanjutnya, agama datang membawa pendidikan dalam sistem pesantren, asrama, surau, dan sebagainya sebagai medianya. Di sini, media-media itu digunakan bukan sekadar untuk sosialisasi tapi juga untuk penanaman moral (ajaran tentang baik dan buruk). Setelah masuknya bangsa Barat ke Indonesia, muncullah sistem sekolah formal. Kurikulum, jenjang, kelas, ijazah, dan lainnya adalah sarana-sarananya. Walaupun demikian, pembentukan karakter peserta didik tetap mengacu pada moral, budi pekerti, dan semangat perjuangan karena terjadi akulturasi budaya. Hal ini disebut pendidikan yang tetap berpedoman pada “ kebudayaan Timur yang luhur”.

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, masuknya budaya barat mengakibatkan pendidikan Indonesia bersifat formal. Berarti ada institusi khusus yang menangani masalah pendidikan. Keformalannya ini mengakibatkan banyak pihak mengkritik pendidikan, salah satunya Paulo Freire (Amerika Latin), penulis buku Pedagogy of the Opressed (Pendidikan Kaum Tertindas). Freire menyatakan sekolah telah jadi “alat penjinakan” dan manipulasi anak didik agar dapat diperalat untuk melayani kepentingan kelompok yang berkuasa. Maksudnya, dengan diformalkannya pendidikan, tidak semua orang mampu menganyam pendidikan di sekolah dan universitas. Hal inilah yang membentuk kesenjangan sosial antar masyarakat. Mendukung gagasan Paulo Freire, Ivan Illich secara ekstrem menyatakan, ‘Bubarkan saja sekolah-sekolah sebagai lembaga pendidikan formal! Buka dan kembangkan praksis pendidikan sekolah bebas. Sekolah harus bebas dari segala birokratisme yang melahirkan sekelompok elit sosial dan profesionalisme yang menghasilkan pendidikan biaya tinggi.’


Pemikiran Freire dan Illich ini mengkritik pendidikan formal karena kenyataannya embel-embel ‘formal’ membuat tujuan pendidikan melenceng. Pendidikan formal diselimuti berbagai kepentingan penguasa. Sekolah jadi tempat pelatihan dan persiapan peserta didik untuk terjun ke “pasar” (mempersiapkan tenaga kerja), bukan tempat terjadinya proses penyadaran dan pembebasan dari keterbatasan manusia. Haruslah disadari bahwa sekolah sebagai tempat pendidikan, bukan sebagai pelatihan calon pekerja. Bukan pula tempat pelanggengan gap atau kelas-kelas sosial dalam masyarakat.

Berbeda dengan Freire dan Illich, Johannes Muller tetap menganggap pendidikan formal sebagai sesuatu yang penting. Namun, toh Muller tetap berpandangan bahwa pendidikan tidak bisa hanya dilakukan di sekolah formal. Alasannya, pendidikan mencakup aspek yang sangat luas hingga harus merangkul masyarakat seluas-luasnya untuk perkembangan manusia seutuhnya. Ia menyebutkan bahwa pendidikan meliputi pendidikan informal (keluarga, tempat bekerja, agama), pendidikan formal di sekolah (termasuk perguruan tinggi), pendidikan luar sekolah yang dilembagakan (pendidikan orang dewasa), media massa (sebagai “guru tersamar”), dan segala kebijakan politik yang menyangkut ruang pendidikan. Dari pernyataan Muller terlihat bahwa pendidikan formal dan nonformal saling melengkapi.


***

Masalahnya, saat ini pendidikan formal jadi sangat mahal. Setiap orang yang seharusnya mendapatkan pendidikan sebagai haknya dihambat oleh biaya pendidikan yang tinggi. Di Indonesia sendiri, saat ini, lebih dari separuh anak tidak dapat mengenyam pendidikan formal. Mayoritas penduduk Indonesia tergolong miskin dan tidak mendapatkan hak-haknya dalam hal pendidikan. Hanya sebagian kecil yang mampu saja yang bisa mendapatkan pendidikan.
Hak dan kewajiban setiap warga Negara Indonesia untuk mendapat pendidikan telah dicantumkan dalam UUD 1945. Pasal 31 ayat (1) 'Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan'. (2) 'Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya'. Namun kenyataannya, untuk mendapatkan pendidikan, biayanya sangat mahal. Biaya pendidikan di Univeritas Sanata Dharma bisa menjadi contoh konkritnya. Untuk dapat masuk prodi Sastra Inggris, Farmasi, dan Teknik Informatika di Sanata Dharma, DPP yang harus dilunasi lebih dari 20 juta rupiah. Biaya kuliah per SKS angkatan 2009 untuk Sastra Inggris dan TI Rp 136.000,- sedang Farmasi Rp 155.000,-. Sehingga bisa jadi, ada calon mahasiswa yang berprestasi dalam akademis namun kurang secara finansial, tidak dapat menimba ilmu di Universitas Sanata Dharma. Begitulah sistem pendidikan yang “populer” di Indonesia ini.

Jika pendidikan adalah proses pemanusiaan untuk membebaskan dan menyadarkan, apakah pendidikan yang kita dijalani sudah benar-benar “mendidik”? Atau pendidikan yang kita dijalani hanya memberikan pelatihan-pelatihan sebagai calon tenaga kerja baru? Mahasiswa yang belasan tahun –atau bahkan lebih- menjadi peserta didik sudahkah menyadari tentang arti pendidikan? Apakah sudah disadari bahwa pendidikan itu seharusnya bebas dari segala bentuk pemerasan? Sadarkah bahwa pendidikan sekarang ini begitu membelenggu? Bukankah biaya sekolah yang mahal merupakan wujud dari penyimpangan esensi pendidikan itu sendiri?
Jika pendidikan tetap berada di jalur yang salah, mau jadi apa bangsa Indonesia? Jika pendidikan hanya dapat dirasakan oleh kelas menengah ke atas karena biayanya yang terus meninggi dan tidak diimbangi pendapatan masyarakat secara luas, apakah patut negara ini disebut negara merdeka? Lantas kapan masyarakat Indonesia bisa merdeka seutuhnya? Nah mahasiswa, kapan akan sadar dan mulai bergerak untuk mengubah sistem yang salah ini?