Setiap manusia memiliki pengalaman hidup masing-masing yang berharga. Tetapi hidup tidak pernah pasti dan sesuatu yang berharga itu bisa segera hilang begitu saja tanpa jejak. Seperti jejak di pasir yang mudah hilang tertiup angin.
Kamis, 01 Mei 2014
Untuk Kawan-kawan Seperjuangan
Kamis, 26 Desember 2013
Batas Titik Dosa
Terseling tawa dan air mata, untuk para pejuang tanpa tanda jasa
Kalian yang tahu rasanya, kalian kuat.
12.45 WIB
Senin, 08 Oktober 2012
Manusia dewa dan tuhannya
Kamis, 04 Oktober 2012
memosting tulisan lama #1
Hampa, kehampaan itu mengisi hari-hariku beberapa hari belakangan ini.
Mataku, mataku terus terbuka dengan segala kenyataan-kenyataan yang ada. Kenyataan tentang hidup dan kenyataan tentang dunia. Hidup dan dunia yang tidak pernah baik-baik saja. Tidak pernah baik-baik saja. Ya, dan hidup memang tak pernah baik-baik saja.
Rumit sekali ketika mengetahui bahwa hidup tidak pernah baik-baik saja. Mendobrak pola pikir orang kebanyakan yang telah terbentuk dari opresi-opresi sistem yang begitu kacau. Membuat kita terhanyut didalamnya dan sulit untuk keluar dari lingkaran ketidaktahuan, lingkaran setan. Sistem yang tertanam dan terus menjalar dalam kehidupan, terutama bagi masyarakat Indonesia. Begitu dahsyatnya efek-efek penjajahan masa feodal, kolonial, dan paham kapitalis yang berlebihan.
Masyarakat terus ditekan dan dimatikan kesadarannya dengan pemutar balikan fakta, penindasan, penganiayaan, perampasan, bahkan pembunuhan untuk tidak berfikir kritis dan hidup dalam kuasa-kuasa yang melemahkan.
Setelah membaca beberapa wacana kritis dan diskusi-diskusi dengan beberapa teman, ada sebuah perubahan pola pikir yang cukup mendalam begitu kentara. Rasanya merasa amat kerdil ketika mengetahui bahwa saya menjadi seorang penonton, penikmat, dan sekaligus korban dalam system-sistem yang sengaja dibuat untuk melemahkan pikiran saya. Seperti terpuruk sekali, bagaikan seorang pemain teater yang menjalankan naskah dramanya tanpa boleh mengekspresikan diri dengan naskah yang dibuat sedemikian rupa sehingga saya merasa tidak berdaya dan hanya bisa menjalani apa yang sudah tertulis dinaskah. Dulu saya belum menyadari hal-hal itu, tapi sekarang pikiran saya telah keluar dari lingkaran ketidakberdayaan hanya belum mampu sepenuhnya keluar dari segala system busuk yang mengikat itu. Karena sangat sulit, hanya sebagian kecil dari seluruh masyarakat yang telah sadar akan dunia yang tidak pernah baik-baik saja ini.
Perasaan terasing kerap kali muncul dalam pergaulan saya. Merasa sendiri ditnegah keramaian. Perasaan itu muncul ketika melihat pola pikir populer yang ternyata memang sudah menjadi budaya pada kaum muda bangsa ini. Saya pun juga pernah berada didalam pola pikir populer yang cukup lama hingga akhirnya tersadar betapa populernya pemikiran-pemikiran saya dulu. Ketika mendapati bahwa teman-teman saya juga berpikiran macam saya dulu yang belum sadar itu saya jadi merasa prihatin. Keprihainan saya bertambah ketika ada beberapa teman yang mungkin menganggap saya aneh dan berpikiran ekstrim, terlalu kritis. Ya Tuhan, tak habis pikir saya, baru hal kritis kecil saja sudah dilebih-lebihkan. Betapa budaya pop dan penindasan terhadap pikiran baru saya rasakan begitu berpengaruh pada pola pikir yang itu-itu saja. Saya menangkap sebuah pola pikir bentukan system tentang hidup yang singkat ini: lahir – sekolah yang bener – jangan neko-neko – rajin atau bahkan disiplin belajar agar mencapai sebuah ‘kewarasan’ – kuliah jadi mahasiswa yang mendapat nilai baik tanpa mengkritisi apa yang didapatkan sudah sebanding dengan apa yang dibayarkan – Dapat pekerjaan dengan gaji yang cukup – punya pasangan hidup – punya anak – menghidupi anaknya – dan tinggal menunggu ajal. Ah, bosan betul hidup macam itu.
Sebagai kaum elit muda, elit yang dalam artian jumlahnya tidak banyak (tidak banyak karena hanya sedikit jumlahnya dan harus mampu member pengaruh terhadap yang lainnya), kita seharusnya sadar akan dunia yang tidak baik-baik saja. Identitas mahasiswa itu membaca dan membuat perubahan. Tetapi yang saya temukan disini adalah sebuah pola pemikiran yang sama. Yang penting hidup enak dan tidak neko-neko. Kerap kali pemikiran-pemikran macam ini yang membuat saya kecewa dan merasa makin terasing. Keterasingan inilah yang cukup berpengaruh dalam hidup saya. Mungkin bisa dilihat dari factor sejarah hidup saya sebelumnya yang jarang mendapat kesulitan hidup yang berarti, kesulitan yang dialami sebatas masalah perasaan (hati), ketidakstabilan ekonomi yang tidak begitu signifikan, dan polapikir saya yang selama ini mainstream juga populer. Ketika saya menemukan realita bahwa hidup saya ternyata selama ini menggunakan kacamata kuda populer rasanya jatuh benar. Berat. Jujur saja, sangat berat karena kehidupan saya yang terdahulu dikelilingi pemikiran - pemikiran hedonisme, populer, dan mainstream.
Ini hanya sepenggal kisah saya tentang sebuah perubahan yang amat besar dan saya menyukainya, hanya butuh waktu saja untuk beradaptasi agar saya mampu membawa perubahan....
=)
Kamis, 16 Agustus 2012
Cinta Indonesia?
Selasa, 24 Juli 2012
Kuatlah, Kuat
Kuatlah kuat. Kali ini aku harus berkata, "air mata hanya untuk yang lemah dan kalah dengan keadaan". Pelan-pelan pasti berlalu. Pelan-pelan... dan semua pasti akan berlalu.
Senin, 18 Juni 2012
Keluarga
Senin, 14 Mei 2012
Romantisme
Sabtu, 27 November 2010
Sekilas Tentang Pertemanan di Mata Saya Sekarang
***
Saya ingin mendedikasikan diri saya untuk membantu sesama yang termarjinalkan. Menegakan keadilan dengan semampu saya, membantu mereka mendapatkan hak-hak mereka. Jika saya mampu membuat tulisan untuk menyadarkan masyarakat bahwa keadilan harus diperjuangkan karena tidak akan datang dengan sendirinya, saya akan berusaha menulisnya. Jika tenaga saya dibutuhkan untuk membantu sesama yang terkena musibah, saya akan kerahkan tenaga saya untuk membantu mereka. Jika mereka butuh orang yang mampu membantu mereka untuk bertahan hidup, saya akan belajar dan berusaha membantu mereka. Terlalu muluk memang untuk mencapai semua itu di sisa umur saya.
Saya sudah menentukan arah, saya sudah tahu aku ingin berbuat apa. Saya tahu waktu saya di dunia tidak lama untuk mencapai impian terbesarku. Saya sudah menetapkan tidak mau membuang terlalu banyak waktu. Saya pun sadar, saya adalah seorang manusia yang masih butuh refreshing, penghiburan, dikuatkan, cinta, dan berdoa. Saya masih suka dan cukup mengalokasikan waktu untuk berlibur dan bersenda gurau dengan teman-teman. Saya masih butuh dikuatkan oleh orang lain ketika terjatuh dan goyah, begitu pula sebaliknya. Untuk cinta, saya sudah memberikan hati saya kepada seorang kekasih. Walau bukan pendoa yang baik, rajin, dan taat, saya masih suka ‘berkomunikasi’ dengan Sang Pencipta yang disebut degan segala nama.
Senin, 02 Agustus 2010
Pendidikan yang Mendidik
Manusia, yang merupakan peserta didik, terbatas secara fisik dan tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lainnya. Bayi, anak manusia, tidak bisa bertahan hidup bahkan dalam waktu beberapa jam saja tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan anak ayam yang dalam waktu beberapa jam saja sudah mampu mematuk di tanah untuk mendapatkan makanannya sendiri. Begitulah yang diungkapkan oleh Ignas Kleden. Keterbatasan fisiknya membuat manusia harus dilatih dan dididik. Tidak hanya dilatih untuk bertahan hidup, manusia juga harus dididik untuk membentuk kematangan pribadi, fisik, dan emosional.
***
Menurut Y. B. Mangun Wijaya, pendidikan di Indonesia awalnya diselenggarakan oleh kolektifitas dusun/suku secara spontan, melalui adat istiadat sebagai media sosialisasinya. Selanjutnya, agama datang membawa pendidikan dalam sistem pesantren, asrama, surau, dan sebagainya sebagai medianya. Di sini, media-media itu digunakan bukan sekadar untuk sosialisasi tapi juga untuk penanaman moral (ajaran tentang baik dan buruk). Setelah masuknya bangsa Barat ke Indonesia, muncullah sistem sekolah formal. Kurikulum, jenjang, kelas, ijazah, dan lainnya adalah sarana-sarananya. Walaupun demikian, pembentukan karakter peserta didik tetap mengacu pada moral, budi pekerti, dan semangat perjuangan karena terjadi akulturasi budaya. Hal ini disebut pendidikan yang tetap berpedoman pada “ kebudayaan Timur yang luhur”.
Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, masuknya budaya barat mengakibatkan pendidikan Indonesia bersifat formal. Berarti ada institusi khusus yang menangani masalah pendidikan. Keformalannya ini mengakibatkan banyak pihak mengkritik pendidikan, salah satunya Paulo Freire (Amerika Latin), penulis buku Pedagogy of the Opressed (Pendidikan Kaum Tertindas). Freire menyatakan sekolah telah jadi “alat penjinakan” dan manipulasi anak didik agar dapat diperalat untuk melayani kepentingan kelompok yang berkuasa. Maksudnya, dengan diformalkannya pendidikan, tidak semua orang mampu menganyam pendidikan di sekolah dan universitas. Hal inilah yang membentuk kesenjangan sosial antar masyarakat. Mendukung gagasan Paulo Freire, Ivan Illich secara ekstrem menyatakan, ‘Bubarkan saja sekolah-sekolah sebagai lembaga pendidikan formal! Buka dan kembangkan praksis pendidikan sekolah bebas. Sekolah harus bebas dari segala birokratisme yang melahirkan sekelompok elit sosial dan profesionalisme yang menghasilkan pendidikan biaya tinggi.’
Pemikiran Freire dan Illich ini mengkritik pendidikan formal karena kenyataannya embel-embel ‘formal’ membuat tujuan pendidikan melenceng. Pendidikan formal diselimuti berbagai kepentingan penguasa. Sekolah jadi tempat pelatihan dan persiapan peserta didik untuk terjun ke “pasar” (mempersiapkan tenaga kerja), bukan tempat terjadinya proses penyadaran dan pembebasan dari keterbatasan manusia. Haruslah disadari bahwa sekolah sebagai tempat pendidikan, bukan sebagai pelatihan calon pekerja. Bukan pula tempat pelanggengan gap atau kelas-kelas sosial dalam masyarakat.
Berbeda dengan Freire dan Illich, Johannes Muller tetap menganggap pendidikan formal sebagai sesuatu yang penting. Namun, toh Muller tetap berpandangan bahwa pendidikan tidak bisa hanya dilakukan di sekolah formal. Alasannya, pendidikan mencakup aspek yang sangat luas hingga harus merangkul masyarakat seluas-luasnya untuk perkembangan manusia seutuhnya. Ia menyebutkan bahwa pendidikan meliputi pendidikan informal (keluarga, tempat bekerja, agama), pendidikan formal di sekolah (termasuk perguruan tinggi), pendidikan luar sekolah yang dilembagakan (pendidikan orang dewasa), media massa (sebagai “guru tersamar”), dan segala kebijakan politik yang menyangkut ruang pendidikan. Dari pernyataan Muller terlihat bahwa pendidikan formal dan nonformal saling melengkapi.
***
Masalahnya, saat ini pendidikan formal jadi sangat mahal. Setiap orang yang seharusnya mendapatkan pendidikan sebagai haknya dihambat oleh biaya pendidikan yang tinggi. Di Indonesia sendiri, saat ini, lebih dari separuh anak tidak dapat mengenyam pendidikan formal. Mayoritas penduduk Indonesia tergolong miskin dan tidak mendapatkan hak-haknya dalam hal pendidikan. Hanya sebagian kecil yang mampu saja yang bisa mendapatkan pendidikan.
Hak dan kewajiban setiap warga Negara Indonesia untuk mendapat pendidikan telah dicantumkan dalam UUD 1945. Pasal 31 ayat (1) 'Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan'. (2) 'Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya'. Namun kenyataannya, untuk mendapatkan pendidikan, biayanya sangat mahal. Biaya pendidikan di Univeritas Sanata Dharma bisa menjadi contoh konkritnya. Untuk dapat masuk prodi Sastra Inggris, Farmasi, dan Teknik Informatika di Sanata Dharma, DPP yang harus dilunasi lebih dari 20 juta rupiah. Biaya kuliah per SKS angkatan 2009 untuk Sastra Inggris dan TI Rp 136.000,- sedang Farmasi Rp 155.000,-. Sehingga bisa jadi, ada calon mahasiswa yang berprestasi dalam akademis namun kurang secara finansial, tidak dapat menimba ilmu di Universitas Sanata Dharma. Begitulah sistem pendidikan yang “populer” di Indonesia ini.
Jika pendidikan adalah proses pemanusiaan untuk membebaskan dan menyadarkan, apakah pendidikan yang kita dijalani sudah benar-benar “mendidik”? Atau pendidikan yang kita dijalani hanya memberikan pelatihan-pelatihan sebagai calon tenaga kerja baru? Mahasiswa yang belasan tahun –atau bahkan lebih- menjadi peserta didik sudahkah menyadari tentang arti pendidikan? Apakah sudah disadari bahwa pendidikan itu seharusnya bebas dari segala bentuk pemerasan? Sadarkah bahwa pendidikan sekarang ini begitu membelenggu? Bukankah biaya sekolah yang mahal merupakan wujud dari penyimpangan esensi pendidikan itu sendiri?
Jika pendidikan tetap berada di jalur yang salah, mau jadi apa bangsa Indonesia? Jika pendidikan hanya dapat dirasakan oleh kelas menengah ke atas karena biayanya yang terus meninggi dan tidak diimbangi pendapatan masyarakat secara luas, apakah patut negara ini disebut negara merdeka? Lantas kapan masyarakat Indonesia bisa merdeka seutuhnya? Nah mahasiswa, kapan akan sadar dan mulai bergerak untuk mengubah sistem yang salah ini?