Tampilkan postingan dengan label olah rasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label olah rasa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Mei 2014

Untuk Kawan-kawan Seperjuangan

Pada akhirnya kita harus menerima takdir untuk kembali pada jalan masing-masing. Kembali ke kota masing-masing kita harus menerapkan ilmu kita, atau merantau ke tampat lain untuk menyambung hidup. Teori-teori yang kita baca serta diskusikan itu hanya akan menjadi wacana tanpa ada aksi. Diskusi-diskusi kita akan menguap saja tanpa ada aksi. Perlulah juga diingat bahwa aksi tanpa teori dan diskusi bisa menjadi sebuah penyesalan karena lupa atau tidak tahu akan salah.

Ah, kawan... begitu banyak selama perkuliahan ini yang ingin sekali kuceritakan. Dibukukan hingga berhalaman-halaman, tapi itu baru angan. Dari segala logika yang ilmiah hingga menyentuh ketuhanan bahkan romantika yang sering kau anggap remeh padahal itu sangat mempengaruhi mood kalian itu sebuah yang sangat berharga.

Mungkin aku mendahului kalian karena harus segera terjun dalam dunia kerja sementara proses perkuliahan. Aku anggap itu takdir pahit yang mengesankan. Pada saat kita turun langsung dan terikat oleh sistem, disitulah mentalmu diuji. Perdebatan teori dan segala wacana di kepala ternyata tak berarti tanpa ada ada keberanian untuk menentang ketidak-benaran yang terjadi dalam sistem perkantoran kita masing-masing.

Feodalisme, Patriarki, Senioritas, Kolusi, Korupsi, Nepotisme, itulah birokrasi, terbungkus profesionalisme yang omong kosong. At least, bagi saya profesionalisme adalah ketika kau bisa menyuarakan yang salah dan berani untuk memperjuangkan nilai yang kau anggap benar. Biasanya orang akan takut, takut kehilangan pekerjaannya, takut kenyamanan di tempat kerja terusik, takut difitnah dan digossipkan yang tidak-tidak oleh rekan kerjamu sendiri. Untuk apa takut jika kita memang benar yakin memperjuangkan nilai yang kita anggap benar?

Aku justru lebih takut kehilangan rekan seperjuanganku yang pernah ku kenal. Aku takut kalian tidak berani untuk memperjuangkan kebenaran kalian. Aku takut lama-lama di dalam sistem yang membuat kalian nyaman itu nurani kalian mati. Ketakutan terbesarku adalah kalian tahu yang benar tapi kalian bungkam dan pura-pura tidak tahu.

Perjalanan selama ini yang kulakukan mengajariku untuk selalu berani. Dengan rasa takutku ini akupun harus bersiap-siap untuk berani kecewa karena tidak semua orang pintar itu nuraninya tetap hidup. Aku hanya mengingatkan, dan kuharap kita semua bisa saling menguatkan. Jika memang orang-orang tua berharap pada raga kita, jangan kita sia-siakan harapan-harapan itu, untuk menjadi generasi pembaharu bangsa. Karena jika kita hanya melanggengkan sistem, kita tidaklah berbuat apa-apa. Hanya hidup untuk menunggu mati saja.

Minggu, 02 Februari 2014

Belajar Ikhlas




Pengalaman lagi-lagi mengajarkanku untuk belajar ikhlas. Ikhlas melihat seorang yang kita sayangi bahagia dengan pilihannya. Keikhlaskan itu agak sedikit menyakitkan untuk membiarkannya, tapi lebih banyak lagi kebahagiaannya.

Setiap cerita pasti ada luka, dan luka itu harus dibagi agar orang lain terutama mereka yang kita sayangi tidak merasakan luka yang sama seperti yang kita rasakan. Bukan menjadi self-centris, tapi ini adalah bagian dari menyayangi.

Seperti itulah orang tua, mereka cerewet dan suka memberikan nasehat kepada anaknya. Mereka tidak mau membiarkan anaknya kesakitan atau terluka seperti apa yang pernah mereka alami. Tapi ketika anaknya sudah memilih, mereka bisa apa lagi… toh hidup ini bukan milik siapa-siapa. Membiarkan si anak untuk menjalani pilihan hidupnya dengan bertanggung jawab.

Ketika seseorang benar-benar peduli padamu, dia akan memberikanmu banyak cerita agar kamu belajar dari pengalaman mereka. Itulah puncak kepedulian yang bisa mereka berikan: membantumu dengan nyata dan bercerita. Tak perlu malu dan/atau gengsi menunjukkan kepedulianmu. Biarkan rasa pedulimu mengalir seperti air yang ikhlas akan menjadi kotor atau bersih di muara, ia tahu bahwa selalu ada yang bisa dipelajari.
Apapun hasilnya, ikhlaslah.

Kamis, 26 Desember 2013

Aku Hanya Diam

Aku mencarimu, diantara lagu-lagu yang teduh itu
Karena entah harus kuapakan luapan rindu
Tak ada sepatah kata meluncur lewat layar seperti biasanya
Padahal dengan menatap matamu sudah bisa tenang

Diantara air mata dan kesesakan
aku sungguh mencarimu dalam-dalam

Jangan hanya diam, sesekali aku ingin mendengar lagu
Sedikt saja nada dan lantunan kata
Seperti yang pernah kau dendangkan dulu
Atau hanya aku yang terhanyut dalam suasana?

Aku ingat setiap inci cerita kita
Yang mungkin kau lupa pernah menceritakannya padaku
Hanya ingin tahu apa cerita yang kausimpan di kepalamu

Aku hanya diam dan tetap membiarkanmu bercerita
Karena aku ingin kau bicara banyak
Aku hanya diam dan tersenyum mendengarkan
Cerita yang bukan tentang kita, tapi tentang sekeliling kita
Aku hanya diam dan menunggu kamu bertanya
Jika kamu memang butuh suaraku
Aku hanya diam dan tetap membiarkanmu berjalan
Karena sejatinya cinta itu harus mengikhlaskan

Menunggu dengan sabar,
itu kata mereka.
Siapa yang tidak tahu bahwa untuk bersabar itu sulit?

Aku hanya diam dan menanti
Aku terlalu takut untuk mencobanya
Aku hanya diam dan bergerak dengan senyum
Karena tak ada alasan untuk menunggumu
Tetapi aku tetap menunggu
Walaupun kamu tak tahu
Aku hanya diam, dan menunggu di dalam hati
Disini, yang terdalam...

Kamis, 04 Oktober 2012

memosting tulisan lama #1

PERUBAHAN

Hampa, kehampaan itu mengisi hari-hariku beberapa hari belakangan ini.

Mataku, mataku terus terbuka dengan segala kenyataan-kenyataan yang ada. Kenyataan tentang hidup dan kenyataan tentang dunia. Hidup dan dunia yang tidak pernah baik-baik saja. Tidak pernah baik-baik saja. Ya, dan hidup memang tak pernah baik-baik saja.

Rumit sekali ketika mengetahui bahwa hidup tidak pernah baik-baik saja. Mendobrak pola pikir orang kebanyakan yang telah terbentuk dari opresi-opresi sistem yang begitu kacau. Membuat kita terhanyut didalamnya dan sulit untuk keluar dari lingkaran ketidaktahuan, lingkaran setan. Sistem yang tertanam dan terus menjalar dalam kehidupan, terutama bagi masyarakat Indonesia. Begitu dahsyatnya efek-efek penjajahan masa feodal, kolonial, dan paham kapitalis yang berlebihan.
Masyarakat terus ditekan dan dimatikan kesadarannya dengan pemutar balikan fakta, penindasan, penganiayaan, perampasan, bahkan pembunuhan untuk tidak berfikir kritis dan hidup dalam kuasa-kuasa yang melemahkan.

Setelah membaca beberapa wacana kritis dan diskusi-diskusi dengan beberapa teman, ada sebuah perubahan pola pikir yang cukup mendalam begitu kentara. Rasanya merasa amat kerdil ketika mengetahui bahwa saya menjadi seorang penonton, penikmat, dan sekaligus korban dalam system-sistem yang sengaja dibuat untuk melemahkan pikiran saya. Seperti terpuruk sekali, bagaikan seorang pemain teater yang menjalankan naskah dramanya tanpa boleh mengekspresikan diri dengan naskah yang dibuat sedemikian rupa sehingga saya merasa tidak berdaya dan hanya bisa menjalani apa yang sudah tertulis dinaskah. Dulu saya belum menyadari hal-hal itu, tapi sekarang pikiran saya telah keluar dari lingkaran ketidakberdayaan hanya belum mampu sepenuhnya keluar dari segala system busuk yang mengikat itu. Karena sangat sulit, hanya sebagian kecil dari seluruh masyarakat yang telah sadar akan dunia yang tidak pernah baik-baik saja ini.

Perasaan terasing kerap kali muncul dalam pergaulan saya. Merasa sendiri ditnegah keramaian. Perasaan itu muncul ketika melihat pola pikir populer yang ternyata memang sudah menjadi budaya pada kaum muda bangsa ini. Saya pun juga pernah berada didalam pola pikir populer yang cukup lama hingga akhirnya tersadar betapa populernya pemikiran-pemikiran saya dulu. Ketika mendapati bahwa teman-teman saya juga berpikiran macam saya dulu yang belum sadar itu saya jadi merasa prihatin. Keprihainan saya bertambah ketika ada beberapa teman yang mungkin menganggap saya aneh dan berpikiran ekstrim, terlalu kritis. Ya Tuhan, tak habis pikir saya, baru hal kritis kecil saja sudah dilebih-lebihkan. Betapa budaya pop dan penindasan terhadap pikiran baru saya rasakan begitu berpengaruh pada pola pikir yang itu-itu saja. Saya menangkap sebuah pola pikir bentukan system tentang hidup yang singkat ini: lahir – sekolah yang bener – jangan neko-neko – rajin atau bahkan disiplin belajar agar mencapai sebuah ‘kewarasan’ – kuliah jadi mahasiswa yang mendapat nilai baik tanpa mengkritisi apa yang didapatkan sudah sebanding dengan apa yang dibayarkan – Dapat pekerjaan dengan gaji yang cukup – punya pasangan hidup – punya anak – menghidupi anaknya – dan tinggal menunggu ajal. Ah, bosan betul hidup macam itu.

Sebagai kaum elit muda, elit yang dalam artian jumlahnya tidak banyak (tidak banyak karena hanya sedikit jumlahnya dan harus mampu member pengaruh terhadap yang lainnya), kita seharusnya sadar akan dunia yang tidak baik-baik saja. Identitas mahasiswa itu membaca dan membuat perubahan. Tetapi yang saya temukan disini adalah sebuah pola pemikiran yang sama. Yang penting hidup enak dan tidak neko-neko. Kerap kali pemikiran-pemikran macam ini yang membuat saya kecewa dan merasa makin terasing. Keterasingan inilah yang cukup berpengaruh dalam hidup saya. Mungkin bisa dilihat dari factor sejarah hidup saya sebelumnya yang jarang mendapat kesulitan hidup yang berarti, kesulitan yang dialami sebatas masalah perasaan (hati), ketidakstabilan ekonomi yang tidak begitu signifikan, dan polapikir saya yang selama ini mainstream juga populer. Ketika saya menemukan realita bahwa hidup saya ternyata selama ini menggunakan kacamata kuda populer rasanya jatuh benar. Berat. Jujur saja, sangat berat karena kehidupan saya yang terdahulu dikelilingi pemikiran - pemikiran hedonisme, populer, dan mainstream. 


Ini hanya sepenggal kisah saya tentang sebuah perubahan yang amat besar dan saya menyukainya, hanya butuh waktu saja untuk beradaptasi agar saya mampu membawa perubahan....

=)

Selasa, 02 Oktober 2012

Sendiri


Menapaki sendiri lagi. Menikmati sakit yang baru lagi. Kenapa jadi menikmati sakit? Kalau masokis ternyata bermakna untuk memberikan ruang bagi rasa sakit dalam hidup, aku pikir tidak masalah, minimal untukku. Yah, menikmati sendiri lagi setelah lama lupa kata sunyi.

Memaknai kejadian-kejadian sendiri, tanpa intervensi, sendiri. Belum tuntas memaknai diri, sekarang aku mencoba untuk tidak peduli. Kadang kita memang butuh untuk pura-pura buta, pura-pura tuli, pura-pura bisu, bahkan pura-pura mati. Tiba waktunya refleksi.

Saat-saat menyalakan lagi berani sebelum nanti harus dimatikan lagi. Membuka lagi kesakitan-kesakitan yang telah lama direpresi sebelum nanti tak bisa egois lagi. Mencari bahagia-bahagia dan ingin-ingin sebelum nanti lupa lagi arti bahagia dan tak punya ingin. Mencari, waktu untuk mencari apa yang sebenarnya ingin kutemui dan ingin kumengerti.

Menikmati sendiri, sambil menyulut kretek dan minum kopi. Hanya butuh sejenak menenangkan dan mengolah lagi jiwa, pikiran, dan hati. Menyimak lagu ‘meniti hutan cemara’ sambil berbaikkan dengan waktu yang terus melaju. Ingin kembali bersahabat dengan alam untuk melihat sisi manusiaku yang pernah hampir mati.

Minggu, 12 Agustus 2012

Hati ke Hati

Untuk sahabat yang mengajari aku hidup yang lain: C dan D

Akhirnya aku bisa menertawai diriku sendiri lagi dan mulai merubuhkan benteng-benteng yang tidak sadar terbangun lagi dengan sendirinya. Perjalanan: kesendirian, alam yang begitu megah, dan orang-orang lain yang mampir dan lewat dalam waktu yang singkat seakan teman sejati untuk memaknai diri. Tersadar lagi bahwa kita bukan milik siapa-siapa, karena saat perjalanan orang-orang menggantungkan diri pada sang supir dan kita tak akan pernah tau apa yang terjadi detik selanjutnya. Kawan bicara lalu menjadi seperti malaikat yang datang mengingatkan bahwa hidup ini hanya persinggahan. Kecongkakan dan keangkuhan manusia tiada artinya dalam kegelapan yang belum jelas seperti apa batasnya.

Hidup memang perjalanan yang luar biasa dan membuatku jatuh cinta. Perjalanan-perjalanan adalah guru yang tidak ada di buku-buku pelajaran yang kubaca di bangku perkuliahan. Teori-teori barat yang menghancurkan kemegahan orang nusantara adalah benteng yang dibangun tidak sesuai budaya-budaya di belahan pulau-pulau yang terbatas perairan. Pemahaman yang tak sempurna, menciptakan kesombongan-kesombongan pribadi yang tak lagi peduli pada yang lain. Terima kasih aku diingatkan kembali.

Dalam ketidak pastian dan derita-derita ini kita memang harus panda-pandai menghibur diri. Belajar lagi untuk tidak marah ketika dibilang 'orang gila'. Karena ternyata menjadi orang yang jujur dan mau menerima kenyataan itu sulit, mungkin kita perlu juga berguru pada orang yang dianggap gila.

Tiba-tiba aku ingin bertemu, ada rindu untuk bicara dari hati ke hati tanpa menipu diri. Pandai-pandai melihat siapa kawan dan siapa kawan yang sebenarnya lawan. Tak cukup logika, tapi juga hati, dan kekuatan manusia yang hampir semua orang tidak mempercayainya perlu diolah lagi.

Sementara lagu dangdut diputarkan dalam bis, lirik-lirik sendu yang mengingatkanku pada sakitnya hati yang telah lalu. Dalam hati sangat menyesal. Sangat menyesal. Atas kesalahan dan kebodohan yang telah kubuat. Letih langkahku dan terasa berat, tapi kemarin ku telah menguatkan lagi aku untuk selalu berfikir sebelum bertindak agar tetap 'hidup'. Bicara dari hati ke hati, agar api terkecil dalam diri untuk berbuat baik tidak mati.

Matahari mulai terbenam, dan akhirnya gelap. Sebelum terlambat, terima kasih kuucapkan sebanyak-banyaknya. Maaf atas janji yang sempat tak ditepati, semoga niat yang baik akan terus menyala dalam hati.

Kamis, 28 Juni 2012

Kesederhanaan

Kesederhanaan adalah yang terbaik. Simplicity is the best.

Terima kasih mama karena selalu mengajarkanku bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Perkataanmmu akan selalu kuingat dan kumaknai terus hingga akhir hayatku.

"Lihatlah kebawah, merekalah yang bergantung pada kita yang masih berpunya. Jangan terus menerus lihat keatas, karena langit tak ada ujungnya."


Bogor, perjalanan ke Yogyakarta. 27 Juni 2012.

Selasa, 19 Juni 2012

Akulah Prajuritnya


Dalam sinar putih sang surya pagi
Ragaku bergerak selaun detak denyut nadiku

Bersiaplah prajurit, bertarung dengan kenyataan!

Pikiranku pedangku
Mata sebagi tameng
Hati adalah baju baja
Dan akulah prajuritnya!

Dalam teriknya sinar putih setinggi kepala
Terus kubuka mata mencerna
Mereka terkapar dan lapar
Ada juga yang buncit dan megar
Itu yang berdasi dan mobil pribadi
Si berwarna teraniaya dikuras tenaganya
Sama yang kulitnya putih pakai dasi
Padahal ini negeri si warna-warni

Dalam teriknya sinar putih setinggi kepala
Kurentangkan hati mencoba memahami
Rasa-rasa perih dan letih
Dari si sakit yang tak mampu bayar rumah sakit
Dari si sarap yang tak diakui keluarganya
Dari si buruh yang hanya bekerja dan bekerja
Dan si lemah yang terus dianiaya

Pikiranku pedangku
Mata sebagai tameng
Hati adalah baju baja
Dan akulah prajuritnya!

Aku prajurit yang merdeka!
Belajar tidak takut dibungkam penguasa
Setia pada kebenaran dan keadilan
Menjunjung tinggi kedamaian

Aku bertarung dengan kenyataan
Kenyataan yang suka menikam kebenaran
Yang suka menindas keadilan
Yang suka menyandera nurani tiap insan

Aku, Prajurit yang bertarung dengan kenyataan
Hingga surya meredup
Sinarnya dikalahkan malam
Prajurit tak akan gugup                                                                              
                                                                                                                 Yogyakarta, 14 Januari 2010

Kamis, 22 Maret 2012

Masih Punya Hati

Sepertinya sudah menjadi kodrat bahwa manusia punya perasaan, kecuali yang mungkin memang memiliki kelainan. Kemarin, beberapa bulan belakangan saya merasa ingin sekali tidak punya hati, tidak punya hati untuk saya sendiri.

Karena tidak mungkin mempersalahkan masalah yang datang silih berganti, walau kadang yang satu belum selesai sudah muncul yang lain, jadi yang bisa dilakukan hanyalah mempersalahkan diri sendiri. Menyalahkan orang lain terasa sia-sia, apalagi menyalahkan keadaan yang tidak mungkin dipersalahkan.

Tapi sebetulnya saya juga paham bahwa kesalahan bukan berawal dari saya. Kesalahan berawal dari hati yang bekerja lebih cepat daripada otak (beberapa pihak yang bersangkutan). Tidak jelas siapa yang memulai, seperti terjadi begitu saja. Jadi hanya bisa bilang, “Aku yang salah” teriak saya pada diri sendiri.

***
Merasa sangat bodoh dan bersalah karena telah bermain api di dekat rumah hingga api menyambar dan rumah terbakar, saya lari dan bersembunyi. Diam dan mencoba melihat pantulan wajah yang cemong karena kepulan asap hitam di permukaan air danau. Saya pastikan tidak ada yang melihat. Kemudian diam-diam pula tangan yang melepuh saya celupkan kedalam air. Perih dan dingin. Sakit, aku menangis. Tapi luka bakarnya memang tak lekas hilang, butuh waktu untuk menyembuhkannya. Saya menyesal. Sudah hukumnya bahwa penyesalan datang belakangan. Dan akhirnya saya menjadi lebih memahami secuil kejadian dalam hidup, yakni penyesalan.

Sekarang saya tahu bahwa saya melakukan kesalahan. Melihat pantulan diri yang tak karuan karena kesalahan sendiri. Dari jauh terdengar suara seseorang berteriak, “Sayang, kamu dimana? Pulanglah.” Beberapa detik kemudian terdengar lagi teriakan, “Pulanglah… Kembalilah bersamaku…” terdengar suara itu agak terisak. Saya tahu betul itu suara siapa. Saya tetap diam dan mencoba mendengarkan. Ah, tak hanya terisak, ia menangis sejadi-jadinya. Nafas yang sesenggukan dan suara yang patah-patah pula rintihan yang lirih terdengar agak samar dalam gema.
***


Hal tersulit dari kesalahan bukanlah mengakuinya atau minta maaf atau memaafkan orang lain, tetapi memaafkan diri sendiri. Rasa bersalah itu seperti menghantui, semakin dipendam semakin jadi luka.

Seandainya saya tidak punya hati, pasti tidak akan sesulit ini menghadapi hari-hari kemarin karena aku tidak perlu merasa bersalah dan merasa kehilangan. Tapi nyatanya, saya manusia yang punya hati. Masalah dihati selalu menganggu jika tidak diatasi. Menggangu pikiran, mengganggu kesehatan, dan mengganggu orang-orang di sekitar.

Dan di’rumah’ aku bisa meminjam bahu untuk menangis dan mengeluarkan semua ketakutanku. Tidak perlu dipendam sendiri, karena sakit hati harus diobati.

“Aku pulang, sayang.” hanya itu yang bisa kuucapkan.

Sabtu, 20 November 2010

nostalgia

Jumat, 17 November 2010

“ Saat-saat ini diam dan mengambil jarak adalah yang terbaik daripada berpikir yang tidak-tidak. Hanya butuh waktu untuk memahami arti hidup dan realita kehidupan.”

Secara tidak sadar, ada yang terus berubah dalam pikiranku dan mengubah hidupku perlahan-lahan menjadi 180 drajat berbalik. Tetapi akhirnya aku sadar. Bacaan kritis yang aku baca, teman-teman terdekat di kampus yang vokal, belajar tentang sastra dan filsafat, semua ini membawaku pada sebuah titik dimana aku menjadi idealis akut.

***
Sebelumnya aku akan membuat pengangkuan bahwa aku telah mengingkari pernyataanku di awal-awal semester 1. “Aku tidak mau menjadi terlalu idealis seperti mas-mas dan mba-mba itu,” kepada seorang teman yang sempat tinggal satu atap beda lantai, sama UKM, sama Fakultas, dan prodi yang sama juga. Aku cukup kecewa dengan diriku sendiri karena dengan ceroboh dan tanpa pikir panjang begitu berani dan congkaknya menyumpahi hidup yang PASTI tidak selalu seperti yang kita harapkan. Rasanya benar-benar sakit, jadi ingin meludahi diriku sendiri setelah sadar bahwa kenyataannya aku menjadi idealis akut menahun.

Mengapa aku dengan gegabahnya menyebutkan statement yang telah kusebutkan diatas? Karena aku tahu bahwa dunia akan menjadi sempurna dalam ide-ide, tetapi kenyataan tidak demikian. Ini akan menimbulkan kekecewaan terhadap hidup yang cukup berat dan hidup yang sulit akan terasa semakin berat. Manusiawi sekali bahwa manusia ingin hidup enak (cepat, mudah, murah, yang penting senang). Jadi aku takut dan menetapkan tidak mau menjadi idealis tanpa tahu arti idealis itu sebenarnya apa. Posmo sekali. Dulu, bagiku, orang idealis adalah orang-orang yang fanatik, frontal, dan radikal dalam berfikr dan bertindak (Betul kan dangkal sekali saya dulu? haha). Seiring berjalannya waktu, apalagi setelah membeli kamus Oxford Advanced Learner’s dictionary, aku jadi lebih paham apa idealis itu. Ideal means satisfying one’s idea of what is perfect. Lalu aku berfikir bahwa semua orang memiliki ‘ideal’-nya masing-masing, contoh: tipe pasangan ideal, nilai yang ideal. Lanjut dengan kata idealisme/ idealism which means The practice of forming, pursuing, or believeing in ideas. Aku berfikir lagi bahwa setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mencapai keinginannya atau bisa kita sebut masa depan ideal yang ingin dimilikinya. Dan untuk idealist is a person who has high ideals and tries to achieve them. Berawal dari inilah saya memutuskan untuk berhenti membengkokan pernyataan saya, karena ideal bukanlah seperti apa yang saya pikirkan sebelumnya.
Hingga akhirnya aku menyimpulkan, idealisme itu sangat penting dan menjadi idealis juga penting. Tetapi masalahnya ketika idealisme itu kupahami dan kujalankan, kemudian baru mengetahui bahwa dunia ide bisa berbanding tebalik dengan realita yang ada. Kekecewaan yang sangat besar tumbuh dengan suburnya di dalam pikiran.

Aku sedang belajar untuk harus bisa seluwes atau se-fleksibel mungkin menempatkan idealisme kita dalam realita kehidupan agar tidak menjadi terlalu terpuruk ketika jatuh. Jatuh hingga terpuruk rasanya tidak enak, sungguh. Seperti sekarang yang aku rasakan sekarang ini. Semua memang butuh proses, mungkin ini memang sebuah permulaan untuk menjadi dewasa, untuk belajar konsisten dengan pilihan, dan belajar tidak terombang-ambing oleh “tangan tak tampak” yang sangat berkuasa.
***
Ya, hidupku sekarang sangat berbeda. Tidak seperti saat SMA dulu. Akupun sadar hal ini tidak tiba-tiba berubah, tapi semuanya melalui proses yang panjang, hampir satu setengah tahun. Aku merasa bahwa aku tak sekuat dulu lagi. Aku merasa payah. Aku terjatuh sangat dalam.
Tidak meratapi, tapi aku membangun kembali. Dalam proses pembangunan inilah yang sulit.
Ketika aku sudah membangun idealismeku dan punya pandangan lain terhadap hidup, yang tidak seperti dahulu, terkadang aku kembali rindu sosokku yang dahulu. Aku kadang-kadang merasa ingin kembali ke masa lalu saat aku tertidur dan bermimpi indah. Sebenarnya aku baru menyadarinya akhir-akhir ini, aku merasa iri dengan temanku. Aku iri karena aku melihat dia seperti cerminan sosokku dimasa lalu. Ceria, terbuka dengan semua orang, punya banyak teman dekat, menjadi pusat perhatian ketika bicara, kuat. Ini payah sekali bagiku. Kemunduran yang luar biasa dalam segi sosialisasi/ pertemanan dan mencoba uantuk lebih terbuka.
Maaf sekali untuk temanku itu, bukan bermaksud membencinya karena perasaan ini, aku justru merasa diriku ini payah sekali. Aku hanya butuh waktu untuk menata perasaan dan pikiranku tentang pandangan-pandanganku. Aku masih meraba arti hidup. Aku ingin benar-benar menikmati hidupku yang baru. Jadi aku mungkin akan mengambil jarak dulu dengan beberapa hal karena aku tidak mau ceroboh dan gegabah lagi.
Aku senang menjadi idealis, tapi aku perlu belajar lagi untuk lebih luwes membawa prinsip2 dan nilai-nilai yang ku pahami dan kuamini dalam hidup.

Kamis, 18 November 2010

kalung doa

Hanya merasa resah melihat yang terjadi pada sekitarku belakangan ini. Apakah aku yang terlalu berlebihan atau memang mereka yang superficial. Entah apa tujuannya benda itu tergantung di leher mereka. Menunjukkan kedekatan mereka dengan hidup doa, atau sekedar menunjukkan identitas diri sebagai seorang yang beragama tertentu, atau malahan hanya sekedar aksesoris.

Benda itu memang bisa dengan mudah didapatkan. Bentuknyapun beragam, ada yang panjang ada yang pendek. Ada yang besar, ada yang kecil. Benda itu juga mempunyai warna yang beragam. Entah karena lucu, keren, ataupun menarik yang jelas bagiku benda itu sangat sakral karena sebagai simbolisasi dan alat pelengkap doa.



(Diambil dari Wikipedia)

Doa Rosario melahirkan sebuah alat untuk menghitung jumlah doa Salam Maria yang didaraskan, yakni Rosario atau kalung Rosario. Jari-jari tangan bergerak dari satu manik-manik ke satu manik-manik lainnya sejalan dengan didaraskannya doa. Tanpa harus menghitung di dalam ingatan jumlah doa Salam Maria yang didaraskan, pikiran seseorang akan lebih bisa mendalami, dalam meditasi, peristiwa-peristiwa suci dalam Doa Rosario.

Hmm… dari esensinya aku hanya merasa kalung ini bukan untuk dipertontonkan saja tetapi sebagai sarana penunjang mendalami iman. Karena bisa menimbulkan sentimen agama. Karena bisa memunjukkan bahwa kepalsuan antara yang dikenakan dan kelakuan..

Bukan sebagai penghakiman. Hanya bercerita tentang sebuah keresahan ditengah zaman yang semakin berantakan. Tanpa mengetahui esensi dari eksistensi sebuah benda akan menjadi terlalu dangkal. Simbolisasi tiada lagi berarti....

Rabu, 13 Oktober 2010

Mungkin ini cinta

Gumpalan-gumpalan pikiran
bercampur emosi jiwa
tidak bisa dikatakan dengan logika
hanya rasanya nikmat saja

Di dalamnya ada nyaman
Di dalamnya ada rindu
Di dalamnya ada letupan emosi
Di dalamnya ada nafsu
Di dalamnya ada rasa ingin memiliki
Di dalamnya ada kebebasan dan kemerdekaan

Bukan hanya rasa senang berada di dekatnya
Tapi nyaman, bebas mengekspresikan apapun yang ada dalam pikiran
Bisa berbagi apapun yang bisa dibagi
Mendengarkan dan mencoba untuk saling mengerti

Bukan hanya rindu melihat wujudnya dan mendengar suaranya
Rindu melihat setiap canda, tawa, air mata, amarah, dan kegalauannya
Rindu bercerita, berbagi, dan merencanakan hidup
Rindu akan setiap detik bersamanya

Ada letupan emosi yang ingin dibagikan
Kegembiraan dan kebahagiaan
Kesedihan dan kegalauan
Amarah dan kegelisahan

Ada rasa ingin memiliki
Rasa takut kehilangan
Rasa cemas ketika tidak ada kabar
Rasa ingin tahu yang besar tentang dia

Ada nafsu birahi yang harus dikontrol
Keinginan untuk menyentuh dan memeluknya
merasai semua bagian tubuhnya
Selalu ingin didekatnya

Dan disana juga ada kebebasan
Bebas untuk menceritakan apa saja yang ingin diceritakan
Bebas memilih siapa yang akan bersamamu
Bebas menentukan pilihan dengan segala pertimbangan
Bebas berkarya dan belajar
Bebas berkawan
Bebas berpendapat dengan segala logika

Dan kemerdekaan,
Sejatinya memang memerdekakaan...
Saling membangun untuk memerdekakan dari segala belenggu