Keluarga, ia tak terbatas ikatan darah, melainkan kedekatan
emosional, intelektual, kultural, dan bisa berawal dari hal-hal
struktural. Keluarga adalah orang tua,
sanak saudara, teman terdekat, teman seperjuangan, teman satu daerah, tempat
individu merasa nyaman untuk berbagi kegelisahan dan belajar untuk saling
mengerti stu sama lain.
Tak lepas dari romantisme kedekatan keluarga, manusia juga
perlu menyadari bahwa orang yang terdekat dan sering berinteraksi, berdinamika
bersama, adalah orang yang paling rentan untuk disakiti. “People who love you
the most, are the people who hurt you the most”. Pasti ada sakit hati dalam
kedekatan dan intensitas pertemuan yang sering, tapi disitulah manusia yang
egois belajar menjadi manusia yang sosial, belajar mengerti satu sama lain.
Manusia tak bisa memungkiri bahwa seorang individu pasti
akan membutuhkan individu lainnya. Maka, rasa sakit menjadi sebuah pembelajaran
untuk bisa menerima perbedaan tiap-tiap individu. Latar belakang seseorang
adalah pijakan seorang individu dalam menghidupi hari-harinya. Satu lau yang
perlu disadari, setiap individu punya latar belakang yang berbeda sejak ia
lahir dan tumbuh, berkembang.
Perbedaan ini harus dimengerti, entah bagaimana caranya,
mungkin dengan bercerita, mngkin dengan bertengkar, mungkin dengan sakit hati,
mungkin dengan mendengarkan… semua mungkin. Semua proses tersebut pasti akan
terjadi dalam keluarga. Tidak ada kekeluargaan tanpa ada konflik di dalamnya.
Bagai karya sastra yang memiliki awal dan akhir, ditengah-tengahnya ada konflik
dan klimaks. Ya, semua orang akan mengalami fase-fase serupa dengan pengalaman
yang berbeda, dan akhir pada fase tersebut adalah ketiadaan, hingga seorang
individu itu memejamkan mata selama-lamaya, menghembuskan nafas terakhirnya.
***
Berbeda antara keluarga biologis, keluarga karena kedekatan
emosional, dan keluarga ideologis.