Minggu, 12 Agustus 2012

Hati ke Hati

Untuk sahabat yang mengajari aku hidup yang lain: C dan D

Akhirnya aku bisa menertawai diriku sendiri lagi dan mulai merubuhkan benteng-benteng yang tidak sadar terbangun lagi dengan sendirinya. Perjalanan: kesendirian, alam yang begitu megah, dan orang-orang lain yang mampir dan lewat dalam waktu yang singkat seakan teman sejati untuk memaknai diri. Tersadar lagi bahwa kita bukan milik siapa-siapa, karena saat perjalanan orang-orang menggantungkan diri pada sang supir dan kita tak akan pernah tau apa yang terjadi detik selanjutnya. Kawan bicara lalu menjadi seperti malaikat yang datang mengingatkan bahwa hidup ini hanya persinggahan. Kecongkakan dan keangkuhan manusia tiada artinya dalam kegelapan yang belum jelas seperti apa batasnya.

Hidup memang perjalanan yang luar biasa dan membuatku jatuh cinta. Perjalanan-perjalanan adalah guru yang tidak ada di buku-buku pelajaran yang kubaca di bangku perkuliahan. Teori-teori barat yang menghancurkan kemegahan orang nusantara adalah benteng yang dibangun tidak sesuai budaya-budaya di belahan pulau-pulau yang terbatas perairan. Pemahaman yang tak sempurna, menciptakan kesombongan-kesombongan pribadi yang tak lagi peduli pada yang lain. Terima kasih aku diingatkan kembali.

Dalam ketidak pastian dan derita-derita ini kita memang harus panda-pandai menghibur diri. Belajar lagi untuk tidak marah ketika dibilang 'orang gila'. Karena ternyata menjadi orang yang jujur dan mau menerima kenyataan itu sulit, mungkin kita perlu juga berguru pada orang yang dianggap gila.

Tiba-tiba aku ingin bertemu, ada rindu untuk bicara dari hati ke hati tanpa menipu diri. Pandai-pandai melihat siapa kawan dan siapa kawan yang sebenarnya lawan. Tak cukup logika, tapi juga hati, dan kekuatan manusia yang hampir semua orang tidak mempercayainya perlu diolah lagi.

Sementara lagu dangdut diputarkan dalam bis, lirik-lirik sendu yang mengingatkanku pada sakitnya hati yang telah lalu. Dalam hati sangat menyesal. Sangat menyesal. Atas kesalahan dan kebodohan yang telah kubuat. Letih langkahku dan terasa berat, tapi kemarin ku telah menguatkan lagi aku untuk selalu berfikir sebelum bertindak agar tetap 'hidup'. Bicara dari hati ke hati, agar api terkecil dalam diri untuk berbuat baik tidak mati.

Matahari mulai terbenam, dan akhirnya gelap. Sebelum terlambat, terima kasih kuucapkan sebanyak-banyaknya. Maaf atas janji yang sempat tak ditepati, semoga niat yang baik akan terus menyala dalam hati.

kenagan

Lalu kau paksa lagi sakit yang timbul dari kenangan-kenangan meluap keluar, deras. Mencuat-cuat seperti sinar surya subuh yang tiba-tiba terlihat begitu saja remang menerangi ufuk timur.

Sakit-sakit yang banjir tapi surut ditelan waktu, meluap lagi. Tadi malam. Malam dimana deru-deru kereta bersatu dalam malam yang berubah terang. Kesunyian telah dipecahkan, dan kenangan menjadi gelora-gelora.

Lalu ruang kamarku terlihat ada celah, dan tiba-tiba kau mengintip disitu. Pancaran mata yang ku kenal, walau sebentar dan begitu dekat. Menjelajahi pagi hingga pagi. Menunggu dan berangan-angan. Lalu kita sadar, bahwa semua hanya kenangan.


Surabaya, IAIN Sunan Ampel, 11 Agustus 2012.
Pagi dihadapan lapangan IAIN, burung gereja berlompatan diatas hijau rumputnya.

Selasa, 24 Juli 2012

Kuatlah, Kuat


Kuatlah kuat. Kali ini aku harus berkata, "air mata hanya untuk yang lemah dan kalah dengan keadaan". Pelan-pelan pasti berlalu. Pelan-pelan... dan semua pasti akan berlalu.




Hidup yang tak pernah luput dari masalah ini semakin hari terasa semakin keruh. Keruh sepekat kali ciliwung yang airnya hitam dan menyengat indera penciuman. Sebenarnya bisa saja kulakukan segala cara dan menghalalkannya, tapi kutepis cepat-cepat. Sisi gelap dan terangku bergelut sejenak dalam ruang-ruang penat di kepalaku. Yah, tak bisa dipungkiri bahwa manusia pasti punya pemikiran jahat sekecil apapun, tinggal hati nurani dan logika yang bisa menangkisnya.

Terang mencoba berdamai dengan gelap, ku kerahkan setiap sudut logika diotak, setiap kekuatan yang menjadi bulir keringat dan letihku usai bekerja, setiap ruang perasaan di hatiku melihat perjuangan para tukang becak, ibu-ibu yang berjualan dipasar, orang yang sakit... mereka yang berjuang demi hidup mereka walau dalam kesusahan yang melampaui apa yang kuhadapi saat ini.