Kamis, 16 Agustus 2012

Cinta Indonesia?


Ramai-ramai orang mengucapkan aku cinta Indonesia di jejaring sosial. Apa mereka benar-benar cinta? Kemerdekaan macam apa yang mereka rasakan ketika saudara sebangsa masih berjuang mati-matian untuk mendapatkan kemerdekaan?
***

Pagi ini, aku bahkan baru ingat bahwa ini tanggal 17 Agustus 2012. Tanggalan merah. Tanggal yang saat ini dinanti para pekerja untuk menikmati istirahat dan bersantai bersama keluarganya. Tanggal yang sekarang ini ditunggu anak-anak sekolah untuk bermain-main di lomba yang menjanjikan hadiah-hadiah sederhana sampai yang mewah… Detik-detik dimana degup jantung yang berdegup cepat dan aliran darah terasa begitu cepat pada pemuda-pemudi Indonesia 67 tahun silam memnanti kata ‘Merdeka’.
Kemerdekaan. Apa yang merdeka? Bahkan kawan saya sendiri yang berusia 21 tahun juga berkata, “aku bahkan tidak punya posisi tawar dalam hidupku untuk mengambil keputusan sendiri karena semuanya sudah diatur oleh orang tua.”  Kawan lain dari fakultas akuntansi berkata, “Secara ekonomi, kebijakan-kebijakan kita masih sangat tergantung dengan IMF, inflasi nilai mata uang masih perlu supaya kita tidak di embargo.” Petani di Kebumen masih berusaha berjuang melawan kekerasan aparat yang MENGANCAM keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Petani Kulon Progo masih berjuang melawan kekerasan aparat serta masuknya modal asing yang akan mengambil lahan hidup mereka, masih terpajang tulisan “Bertani atau Mati!”. Seruan yang pernah diteriakkan pendahulu bangsa kita juga serupa walau tak sama “Merdeka atau Mati!”… Seruan itu… seruan itu… semata tak terdengar lagi oleh anak-anak muda yang terlarut budaya barat sampai lupa budaya timur sendiri. Seperti tak digubris oleh orang tua-orang tua yang masih bersujud menyembah-nyembah ilmu yang mereka dapatkan dari barat sampai lupa ilmu dari timur sendiri yang luar biasa dicari orang barat.

Lucu… Ironis…

Beberapa hari yang lalu, ketika di Mojokerto, aku dan kawan-kawan bicara soal masalah-masalah anak muda di Indonesia. Sementar di samping kanan, kiri,dan depan kami asyik bermain kartu, bicara otomotif, game-game terbaru, software, akan berlibur kemana liburan nanti, mode pakaian terbaru, shopping. Rasanya seperti ada di dimensi yang lain. Apakah dari puluhan orang di tempat makan ini tidak ada yang memikirkan apa yang harus kita lakukan untuk bangsa ini?
Ah, mungkin ada tapi di tempat yang lain. Atau, mungkin mereka bicarakan tentang Indonesia di ruang yang lain selain di ruang kotak kelas… ya, semoga saja harapan ini bukan hanya di anganku saja.
Kembali lagi. Kemerdekaan. Kemerdekaan macam apa? Ketika masih ada yang bilang, “Maaf mas, aku ga bisa melanjutkan hubungan ini, orang tuaku melarang aku untuk berpacaran apalagi serius dengan yang beda agama.” Teman yang lain berkata, “Saya kalau cari pacar harus yang cina, karena nanti ga direstui orang tua kalau ga cina.” Dengan muka pucat ada teman yang berkata, “Tadi dijalan aku diserempet Pace (Bapak dalam bahsa papua), tapi ga berani aku ngomong sama dia.” Kemerdekaan yang rasis dan dan membeda-bedakan agama? Sumpah Pemuda yang mengorkan Berbangsa Satu, Bertanah Air Satu, dan Berbahasa Persatuan tidakkah menggantung di telinga? Kalau mengaku Ketuhanan yang Maha Esa, kenapa agama masih menjadi masalah dalan bersosial?
Generasi ini generasi ahistoris, yang melupakan kejayaan nusantara pada masa kejayaannya, melupakan arti perjuangan pendahulunya yang rela mati untuk anak-cucunya. Sementara anak cucunya hanya memikirkan dirinya sendiri yang egois dan menyembah pada apa yang ditentang para pendahulunya. Bangga dengan hal-hal banal. Silahkan saja nikmati hidupmu itu, karena toh pada akhirnya pembenaran kalian seperti ini, “hidup ini hanya persinggahan, sementara, lalu nikmati saja hidup yang singkat ini.” Ya nikmati saja, mungkin buat kalian cukup untuk membahagiakan orang-orang disekitar yang tercinta, seperti keluarga dan teman-teman terdekat. Ya nikmati saja… Nikmati dan nikmati… lalu dipenghujung usia akan tersadar, betapa egois ketika kita hanya melihat hidup untuk lingkaran terdekat saja.
Masih kau berani berkata Dirgahayu untuk Indonesia yang ‘Merdeka’? Masih kau berani bilang cinta pada Indonesia? Indonesia definisi siapa? Indonesia yang mana? Indonesia yang milik siapa?
***
Ah, maaf, mungkin saya  Cuma ngelantur. Anggaplah ini omongan gadis yang sedang meraba hidup, masih mencari dan belum tahu apa-apa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar