Kamis, 04 Oktober 2012

memosting tulisan lama #1

PERUBAHAN

Hampa, kehampaan itu mengisi hari-hariku beberapa hari belakangan ini.

Mataku, mataku terus terbuka dengan segala kenyataan-kenyataan yang ada. Kenyataan tentang hidup dan kenyataan tentang dunia. Hidup dan dunia yang tidak pernah baik-baik saja. Tidak pernah baik-baik saja. Ya, dan hidup memang tak pernah baik-baik saja.

Rumit sekali ketika mengetahui bahwa hidup tidak pernah baik-baik saja. Mendobrak pola pikir orang kebanyakan yang telah terbentuk dari opresi-opresi sistem yang begitu kacau. Membuat kita terhanyut didalamnya dan sulit untuk keluar dari lingkaran ketidaktahuan, lingkaran setan. Sistem yang tertanam dan terus menjalar dalam kehidupan, terutama bagi masyarakat Indonesia. Begitu dahsyatnya efek-efek penjajahan masa feodal, kolonial, dan paham kapitalis yang berlebihan.
Masyarakat terus ditekan dan dimatikan kesadarannya dengan pemutar balikan fakta, penindasan, penganiayaan, perampasan, bahkan pembunuhan untuk tidak berfikir kritis dan hidup dalam kuasa-kuasa yang melemahkan.

Setelah membaca beberapa wacana kritis dan diskusi-diskusi dengan beberapa teman, ada sebuah perubahan pola pikir yang cukup mendalam begitu kentara. Rasanya merasa amat kerdil ketika mengetahui bahwa saya menjadi seorang penonton, penikmat, dan sekaligus korban dalam system-sistem yang sengaja dibuat untuk melemahkan pikiran saya. Seperti terpuruk sekali, bagaikan seorang pemain teater yang menjalankan naskah dramanya tanpa boleh mengekspresikan diri dengan naskah yang dibuat sedemikian rupa sehingga saya merasa tidak berdaya dan hanya bisa menjalani apa yang sudah tertulis dinaskah. Dulu saya belum menyadari hal-hal itu, tapi sekarang pikiran saya telah keluar dari lingkaran ketidakberdayaan hanya belum mampu sepenuhnya keluar dari segala system busuk yang mengikat itu. Karena sangat sulit, hanya sebagian kecil dari seluruh masyarakat yang telah sadar akan dunia yang tidak pernah baik-baik saja ini.

Perasaan terasing kerap kali muncul dalam pergaulan saya. Merasa sendiri ditnegah keramaian. Perasaan itu muncul ketika melihat pola pikir populer yang ternyata memang sudah menjadi budaya pada kaum muda bangsa ini. Saya pun juga pernah berada didalam pola pikir populer yang cukup lama hingga akhirnya tersadar betapa populernya pemikiran-pemikiran saya dulu. Ketika mendapati bahwa teman-teman saya juga berpikiran macam saya dulu yang belum sadar itu saya jadi merasa prihatin. Keprihainan saya bertambah ketika ada beberapa teman yang mungkin menganggap saya aneh dan berpikiran ekstrim, terlalu kritis. Ya Tuhan, tak habis pikir saya, baru hal kritis kecil saja sudah dilebih-lebihkan. Betapa budaya pop dan penindasan terhadap pikiran baru saya rasakan begitu berpengaruh pada pola pikir yang itu-itu saja. Saya menangkap sebuah pola pikir bentukan system tentang hidup yang singkat ini: lahir – sekolah yang bener – jangan neko-neko – rajin atau bahkan disiplin belajar agar mencapai sebuah ‘kewarasan’ – kuliah jadi mahasiswa yang mendapat nilai baik tanpa mengkritisi apa yang didapatkan sudah sebanding dengan apa yang dibayarkan – Dapat pekerjaan dengan gaji yang cukup – punya pasangan hidup – punya anak – menghidupi anaknya – dan tinggal menunggu ajal. Ah, bosan betul hidup macam itu.

Sebagai kaum elit muda, elit yang dalam artian jumlahnya tidak banyak (tidak banyak karena hanya sedikit jumlahnya dan harus mampu member pengaruh terhadap yang lainnya), kita seharusnya sadar akan dunia yang tidak baik-baik saja. Identitas mahasiswa itu membaca dan membuat perubahan. Tetapi yang saya temukan disini adalah sebuah pola pemikiran yang sama. Yang penting hidup enak dan tidak neko-neko. Kerap kali pemikiran-pemikran macam ini yang membuat saya kecewa dan merasa makin terasing. Keterasingan inilah yang cukup berpengaruh dalam hidup saya. Mungkin bisa dilihat dari factor sejarah hidup saya sebelumnya yang jarang mendapat kesulitan hidup yang berarti, kesulitan yang dialami sebatas masalah perasaan (hati), ketidakstabilan ekonomi yang tidak begitu signifikan, dan polapikir saya yang selama ini mainstream juga populer. Ketika saya menemukan realita bahwa hidup saya ternyata selama ini menggunakan kacamata kuda populer rasanya jatuh benar. Berat. Jujur saja, sangat berat karena kehidupan saya yang terdahulu dikelilingi pemikiran - pemikiran hedonisme, populer, dan mainstream. 


Ini hanya sepenggal kisah saya tentang sebuah perubahan yang amat besar dan saya menyukainya, hanya butuh waktu saja untuk beradaptasi agar saya mampu membawa perubahan....

=)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar