Selasa, 11 Desember 2012

Bocah-bocah Ajaib



Matahari sore ini sedang bersahabat, bersepeda adalah kegiatan asyik untuk sekedar mencari keringat. Sekaligus melepas penat tentunya. Menikmati udara sore kota ini dengan santai, jarang sekali terjadi. Memaknai lagi jejak yang sudah dibuat kemarin-kemarin dan mengeluarkan emosi dengan tidak melampiaskan ke orang lain. Kegelisahan tidak juga meredup sepanjang jalan. Sudah semakin sore, saatnya bermain dengan bocah-bocah penyemangat di hari yang mendung.

Saatnya pulang dan belajar. Beruntung sudah sampai rumah. Hujan deras malam ini menambah kesenduan dalam gelisah yang tak kunjung reda. Jadi teringat sebuah film, pada bagian epilog tertulis, “a story should be written to make they understand”. Letup-letup ingin menulis mengalahkan niat belajar untuk mempersiapkan ujian pragmatics.
***
Setelah vakum 2 bulan dari Code Pintar, kounitas belajar dan bermain bersama anak-anak yang tinggal di pinggiran kali Code, kegelisahan kembali menghampiri. Kali ini ia datang dari waktu. Anak-anak ini tumbuh cepat sekali. Mereka sudah bertambah tinggi, semakin aktif, dan semakin mampu menyimak apa yang mereka rasakan dengan indera mereka.

Banyak kosa kata baru dan perilaku mereka yang tidak sama menaggapi sesuatu. Hanya saja perubahan itu membuat saya merasa asing dan khawatir. Ku pikir mereka masih kecil, belum tau kerasnya dunia. Asumsiku salah besar, mereka tahu betapa beratnya hidup, mereka tertekan. Hanya saja mereka masih terlalu kecil untuk mengartikannya, tawa-tawa mereka menutupi rasa takut. Mereka menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, bicara tentang perempuan berpakaian minimalis di sebuah majalah, bicara tentang kawin (hubungan seksual), dan membodoh-bodohi temannya jika tidak bisa menjawab pertanyaan.

Sepertinya dulu waktu seumuran mereka, aku belum berfikir apa yang mereka pikirkan. Aku bahkan bisa membantah ibuku saat ia mengajariku dengan cara yang berbeda dengan apa yang diajarkan di sekolah karena aku memahami apa yang diajarkan guruku. Tapi mereka belum bisa menguasai pelajaran yang mereka pelajari.


Mereka belum menguasai pelajaran dengan baik, ada beberapa yang sudah baik tapi bisa dihitung dengan tiga samai lima jari. Pertambahan, pengurangan, perkalian, apalagi pembagian…
“Ah, adik… apakah dirumah kamu tidak pernah diajari orang tuamu.” Gerutuku dalam hati.
Kujawab sendiri, “Jangan memikirkan mengajari anak, orang tua mereka pasti sudah ruwet mengurusi masalah perut”.

Saat belajar, mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tapi juga memiliki tingkat kejenuhan terhadap subyek tertentu yang tinggi juga. Mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) dan belajar untuk ulangan, beberpa lainnya bermain, melopat kesana kemari, ada juga yang membantu membersihkan ruang belajar. Tinggal pengjarnya saja yang harus pintar-pintar melakukan inovasi agar mereka tetap fokus pada apa yang dipelajari.

Tidak hanya pelajaran, tapi kami juga bersama-sama belajar melakukan aktifitas diluar akademis. Mewarnai, menggambar, main music dengan memanfaatkan barang-barang bekas, menyanyi lagu anak-anak. Banyak yang bisa dipelajari dari bocah-bocah ini. Mereka hanya tahu bahwa dunia mereka adalah rumah dan lingkuangan tempat ia tinggal, jika kita ‘merusak’ kenyamanannya, mereka akan kehilangan masa kecil yang membahagiakan.

Mata mereka yang bersinar-sinar selalu redup ketika orang tuanya memanggil mereka untuk pulang. “Emoh, nanti!” jawab Putra, seorang anak laki-laki yang belum sekolah yang menjadi anggota Code Pintar, ketika ibunya memanggilnya dari pintu ruang petak yang kami kontrak. 

Setelah beberapa kali diperhatikan, beberapa orang tua selalu beteriak atau memanggil mereka dengan nada tinggi jika memanggil anaknya untuk pulang ke rumah. Disitulah, mata mereka meredup, kehilangan sedikit kebahagiannya. Beberapa lagi yang sudah agak besar mereka pun terlihat sungguh bersemangat ketika kami datang dan membuka kunci rumah. Menjelang pukul 7, mereka mulai gelisah karena kelas informal ini hampir selesai. Mereka pasti akan berbuat rusuh dan iseng jika melihat kami mulai merapikan barang-barang dan bersiap-siap pulang. Ada saja tingkahnya, mematikan lampu lah, mengunci kami dari luar lah, menyembunyikan sandal, dan tingkah lucu lainnya. 

Mereka memberontak dari ketertekanannya dengan cara bermain. Itulah yang terlihat dari cara mereka menolak untuk kembali ke rutinitas di rumah dan sekolah. Mereka berontak dengan cara melakukan keisengan dengan tujuan mencari perhatian, agar kami tidak pulang dan tetap berada di rumah Code Pintar untuk berbagi cerita dan belajar.
***

Ajaib: senyum dan tawa anak-anak itu menyemangati saya dan memberikan energi positif untuk saya yang sedang layu. Walaupun mereka nakal, tapi mereka telah membangkitkan semangat dan jiwa yang hampir mati karena lamunan. Adik-adik sayang, berbahagialah… bermainlah selagi kau bisa bermain, dan bermainlah untuk melepaskan semua bebanmu… Kanak-kanak… Ya, kadang aku merindu menjadi bocah … Ajaib, kalian mengingatkanku lagi untuk terus bersyukur dan bergerak.

Yogya, 10 Desember 2012
11.12 pm, astaga… besok ujian pagi dan lanjut observasi KKN…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar